Senja Hari Ini

Fenomena hari ini betul-betul mencengangkan kita semua, logika hukum telah dijungkir-balikan seperti telapak tangan yang dibalik dengan mudah, seperti menggenggam angin dikepalan tangan.Kosong tanpa hasil. Apa yang kita lihat dari pagelaran kekuasaan politik sangat menarik dan satir.

Peradilan Soeharto dianggap selesai dengan diampuninya beliau, dan kompensasi damai ditawarkan SBY melalui Kajagung dengan Yayasan Supersemar dibagi dua, yaitu sekitar 4 trilyun pada tanggal 12 Januari. Itupun gagal, dan ditolak oleh OC. Kaligis mewakili keluarga Cendana. Belas kasihan yang nyatanya malah nol, bahkan menurut Adnan Buyung Nasution, Presiden dapat di impeachment oleh DPR karena melanggar hukum.

Tapi lebih parah lagi, malah DPR yang dipelopori Agung Laksono sang ketua sekaligus mewakili fraksi Golkar, serta fraksi lainnya, juga berniat mengampuni Soeharto, maka habislah sudah. Kisah sangat dramatis yang akan mengakhiri agenda reformasi dengan diampuninya Soeharto, akan menimbulkan dampak yang sangat luas.

Kemungkinan keluarga cendana dan kroni orba berharap sama diampuni, serta mendapat simpati melalui opini yang dibangun dengan momentum ini. Setidaknya secara implisit dan eksplisit negara telah kehilangan kewibawaan dan kehilangan arah oleh  lenturnya hukum kita yang semakin terbuka, dicabutnya TAP MPR XI/98 yang menyangkut Soeharto dan kroni, budaya permisif tingkat tinggi dikalangan mereka, dan dampak lainnnya ditengah masyarakat yang semakin terjerumus friksi, antara pro dan kontra yang semakin tajam.

Saya sangat sedih, jika ingat ditahun 1998 terjadinya reformasi, sebagian Jakarta terbakar habis oleh massa rakyat yang marah.Korban mahasiswa dan rakyat yang diculik dan dibunuh. Tragedi Trisakti, Semanggi, Aceh, dan kejahatan terhadap kemanusiaan lainnya, Elang, Yunhap dll. sebagai korban. Begitupula kejahatan korupsi, krisis ekonomi yang sangat parah, hutang yang sangat tinggi.dll. Ini akumulasi kesalahan siapa ?  Betulkah mereka tidak bersalah?

Buah reformasi yang diperjuangkan dengan darah dan airmata oleh mahasiswa beserta rakyat. Hasilnya, para penikmat yang sudah sangat kenyang adalah melupakan agenda reformasi yang kian separuh hati.

Kita mungkin terperangkap terbawa halusinasi harmonisasi, kedamaian, dan ketentraman, serta kenyamanan seperti tempo dulu, yang malah dapat membahayakan stabilitas negara dimasa datang. Setidaknya catatan sejarah yang semakin buram dan kusut, bahwa hati nurani telah dikalahkan.

Sekedar bernostalgia, saya masih melihat sebuah catatan kecil dari kertas lapuk dan kusam dirumah, sisa masa lalu milik sebuah komunitas, dan file yang masih tersisa diinternet, gagah sekali. Entah milik pa Bintang, entah milik siapa.Ternyata, hukum revolusi lebih keras dibanding reformasi, demokrasi dsb., saat ini. Kertas itu berisi,  “Tahan  dan adili  Soeharto! serta sita kekayaan hasil korupsi Soeharto! dengan keluarga Cendana lainnya! berikut kroni orde baru !”.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s