Sartono Kartodirdjo

 Mengenang Prof A Sartono Kartodirdjo 

M Nursam  

Sudah sejak setahun terakhir kondisi kesehatan Prof Dr Aloysius Sartono Kartodirdjo kian menurun. Akhirnya, pada Jumat, 7 Desember 2007, pukul 00.45 WIB, guru utama Sejarawan Indonesia itu menghembuskan napas terakhir. Bangsa Indonesia kembali kehilangan putra terbaiknya. Sepanjang usianya yang hampir 87 tahun, Prof Sartono tidak saja memberi contoh di wilayah publik sebagai guru utama Sejarawan Indonesia, tetapi juga memberi teladan dan inspirasi dari sosok pribadinya: memilih hidup asketis.

Generasi Awal 

Sartono merupakan wakil pertama generasi baru sejarawan Indonesia yang menerapkan metode penelitian modern pada lapangan studi sejarah.Puluhan buku dan ratusan artikel telah lahir dari tangannya. Kariernya sebagai sejarawan bermula ketika pada tahun 1950, ia memilihmelanjutkan studi di Jurusan Sejarah UI dan menyelesaikannya enamtahun kemudian, 1956. Sepuluh tahun kemudian, 1966, ia mendapat gelar Doktor di Universitas Amsterdam dengan disertasi, “The Peasants’Revolt of Banten in 1888, It’s Conditions, Course and Sequel: A CaseStudy of Sosial Movements in Indonesia”.

Disertasi ini menjadi batu loncatan dalam studi sejarah Indonesia. Menurutnya, penulisan disertasinya didorong oleh hasrat melancarkan protes terhadap penulisan sejarah Indonesia yang konvensional dan Neerlandosentris. Dengan menggunakan social scientific approach, Sartono memberikan cahaya terang dalam perkembangan dan arah historiografi Indonesia-sentris. Petani atau orang-orang kecil yang dalam sejarah konvensional menjadi non-faktor, dalam karya Sartono menjadi aktor sejarah. 

Berbuah Sekali Lalu Mati 

Pada ulang tahunnya yang ke-80, tahun 2001, Sartono masih menerbitkan buku berjudul Indonesian Historiography. Apa yang ingin diperlihatkanSartono adalah usia bukan alasan untuk berhenti berkarya. Kerja seorang ilmuwan adalah kerja tanda henti. Dalam setiap kesempatan, ia selalu mengingatkan siapa pun, khususnyakepada murid-muridnya, bahwa ilmuwan “jangan seperti pohon pisang,yang hanya berbuah sekali kemudian mati.” Menurut Sartono, apa yang dihasilkan adalah buah dari asketisme yangdihayatinya secara terus-menerus; ketekunan, ketelitian, ketuntasan,serta kesempurnaan teknis. Ia menjalani apa yang dalam Wedatama disebut mesu budi. Bau kertas arsip atau buku kuno akan merangsang semangatnya untuk bergulat tanpa henti. Baginya, identitas seorang profesional memuat secara inheren suatu keahlian, keterampilan, pengetahuan teknis, otonom, dan memiliki integritas tinggi. 

Sikap Asketis 

Dalam berbagai kesempatan, Sartono selalu mengingatkan bahwa sikapasketis menjadi esensi dari keahlian seorang profesional. Sebagaisejarawan generasi pertama, Sartono telah menghasilkan banyak muridyang tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Murid-muridnya itulahyang menjadi benang penyambung ide dan gagasan Sartono. Di tingkat global, jaringannya tidak diragukan lagi. Berbagai penghargaan dari berbagai universitas dan lembaga internasional telah didapatkannya. Salah seorang koleganya, Joseph Fischer, dari University of California, mengatakan, “Bagi saya, Pak Sartono merupakan kombinasidari tokoh Arjuna, Gatotkaca, dan Semar. Arjuna karena kehalusan sikapnya. Gatotkaca karena kejujurannya, dan Semar karena kearifannya.Pak Sartono benar-benar seorang cendekiawan profesional dan seorang guru yang baik.” 

Budaya Abangan 

Sartono dilahirkan pada tengah malam di Wonogiri, 15 Februari 1921,dari pasangan Tjitrosarojo dan Sutiya sebagai anak bungsu dari tigabersaudara kandung. Sebagai manusia Jawa, Sartono dibesarkan dalamruang sosial budaya abangan. Ruang inilah yang paling awal membentukpandangan dunianya. Melalui dunia pendidikan formal yang dijalaninya—HIS, MULO, HIK—iamenyerap nilai budaya Barat. Di HIK Muntilan, selain menyerap budayaBarat secara lebih intensif, Sartono juga menyerap nilai-nilai dan ajaran Kristiani. Selama di HIK, nilai Kristiani semakin membentuk kepribadian Sartono karena ia mendapat pendidikan khusus sebagai (calon) bruder. Meski akhirnya memilih karier sebagai guru, nilai-nilai yang diajarkan selama di HIK tetap menjadi pemandu dalam perjalanan hidupnya. Endapan pengalaman Sartono yang demikian beragam dan multidimensi menjadi batu-batu dalam perjalanan hidupnya, baik sebagai sejarawan maupun sebagai manusia biasa.

Ketetapan Hati 

Sebagai manusia biasa, ia pernah mengalami berbagai keraguan dan kebimbangan dalam hidupnya, baik saat merintis karier maupun mempertahankan integritasnya sebagai sejarawan. Dalam kondisi demikian, menurut Sartono, dibutuhkan ketetapan hati berdasarkan keyakinan bahwa “setiap usaha membawa pahalanya sendiri”. Pada titik-titik kisar seperti itu, peran istrinya, Sri Kadaryati,yang dinikahinya 60 tahun silam, memiliki peran besar. Bagi Sartono, dalam pembangunan bangsa, sejarawan memberi sumbangandalam merekonstruksi sejarah nasional sebagai lambang identitas nasional.

Fungsionalisasi pelajaran sejarah dapat merevitalisasi nasionalisme pada generasi muda sehingga dapat dijiwai lagi etos nasionalismenya. Dengan demikian, generasi baru dengan spirit baru dapat menghadapi tantangan masa depan dengan menengok ke belakang sesuai semboyan bahwa melupakan sejarah berarti menutup pintu bagi masa depan. Hidup dan karya Prof A Sartono Kartodirdjo telah diabdikan untuk“membuka pintu bagi masa depan”. Untuk Sang Teladan: Selamat jalan kepangkuan-Nya dengan damai!  

M Nursam Alumnus Ilmu Sejarah UGM; Penulis Buku Biografi Sartono Kartodirdjo yang sedang dalam Proses Penerbitan, Tinggal di Yogyakarta. Sumber: Kompas 8 Desember 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s