Primordialisme Saya Tersentuh

Saya cukup kaget dan sangat miris dimasa lalu, ketika seorang kawan dengan sangat marah mengingatkan tentang kekalahan orang lokal di tanah kelahirannya sendiri (seperti orang Indian saja).Ada beberapa sebab yang nantinya suatu saat akan menjadi pemicu konflik.

Menurut seorang dosen saya, lahirnya konflik bernuansa SARA disebabkan oleh ; tersumbatnya akses ekonomi, politik, sosial budaya, dan hukum.

Akses ekonomi menyangkut tingkat kesejahteraan orang lokal

Akses politik mengenai penempatan orang lokal pada jalur birokrasi dan pemerintahan

Sosial budaya menyangkut nilai dan pendidikan yang telah dicapai.

Aspek hukum mengenai keadilan yang semestinya diperoleh.

Diskusi dengan seorang kawan saya tersebut, dipicu dengan adanya kenyataan proporsi jumlah PNS dari lokal yang ada di Pemprov Banten kurang dari 50 %. Ini sangat mengkhawatirkan.

Ternyata rumor beredar dalam penerimaan CPNS tersebut pernah terjadi acara bedol kampus dari luar Banten beberapa tahun lalu, juga orang luar yang tiba-tiba nyelonong masuk. Ini sangat ironis sekali.

Padahal universitas, sekolah tinggi, dan akademi di Banten yang didirikan selain Untirta juga cukup banyak dan sudah teruji sejak dekade 80-an. Bukan hanya itu saja, putra daerah yang melanjutkan dan menamatkan kuliah diluar kota, juga cukup banyak sejak dulu. Ini sangat aneh.

Begitupula pabrik-pabrik yang ada di wilayah Banten, semestinya lebih memprioritaskan pekerja untuk tingkat manajemen menengah ke bawah dari orang lokal, apalagi masyarakat lokasi setempat (tertuang dalam Amdal-Andalsos bahkan diperdakan). Saya anggap dalam hal pendidikan dan keahlian, juga sudah lebih dari cukup memadai.  Pada tahun 1999, dalam forum diskusi KMC (Keluarga Mahasiswa Cilegon-saya salah satu pendiri di Bandung tahun 1995), pernah pula dilontarkan  dengan proporsi 60% : 40 %.

Definisi tentang orang lokal sendiri menurut beberapa tokoh Banten adalah orang yang lahir dan besar di Banten dan bertempat tinggal cukup lama. Sedangkan bagi para pendatang yang bertempat tinggal dan telah lama berakulturasi, serta berasimilasi menjadi bagian dari orang Banten dan memiliki ikatan emosional yang sama. Baik Banten Utara yang diwakili kultur bahasa Jawa-Banten dan sebagian Betawi di Tangerang, serta Banten Selatan yang sunda, juga nilai religius, tradisi, ikatan emosional, dan karakter khas yang menyertainya.

Kondisi sosiobudaya saat ini, berbeda dengan era dekade 70 – 80 an dimana masyarakat Banten belum mampu berdaya. Jadi sudah saatnya orang Banten dengan jumlah penduduk yang sudah cukup padat sekitar 9 juta lebih, harus mendapat prioritas utama.

Mungkin saya  terlalu primordial dan nepotisme dengan tulisan ini. Saya mohon maaf. Dan saya lebih sangat berharap yang terpilih adalah orang lokal yang berkualitas dan memiliki loyalitas tinggi pada daerahnya.

Kenyataan bahwa konflik SARA yang ada di Indonesia hampir sebagian besar dipicu oleh faktor ekonomi dan politik, ini sangat berpengaruh besar terjadinya disintegrasi sosial di tiap daerah.Bencana Sampit misalnya, bagaimana orang Dayak kalah dengan pendatang membuktikan hal ini. Semoga ini tidak terjadi.

Dan saya sangat percaya orang Banten selain egaliter, kuat dan arogan dengan harga diri dan kemampuannya. Semoga !!!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s