REFLEKSI Pildekan Untirta

Pemilihan Dekan lalu telah usai oleh Senat Fakultas (terbatas 9 orang) pada akhir November lalu, begitupula Ketua dan Sekertaris Jurusan (Forum Dosen). Saat ini sedang ramai lagi pemilihan Pembantu Dekan disemua fakultas, bahkan kriteria dan syarat diajukan menimbulkan kecemasan dan unjuk rasa disalah satu fakultas.

Saya heran, kenapa tidak pada waktu Pemilihan Dekan terjadi unjuk rasa mahasiswa diseluruh fakultas (?). Alasan yang diajukan pihak rektorat melalui SK Rektor yang diterbitkan, disebabkan waktu yang molor (demisioner cukup lama 3 bulan), sehingga penyelenggaraan Pemilihan Dekan terjadi begitu sangat cepat, dramatis, kurang aspiratif, dan masih diwarnai wajah lama. Tak heran di Faperta (Fakultas Pertanian) mahasiswanya sempat melakukan aksi unjuk rasa menggugat hasil Pildekan tersebut. 

Pemilihan Dekan yang terjadi kali itu lebih menonjolkan terpilihnya suksesi yang cepat, instan (2 minggu lebih) dan diharapkan tepat mewakili aspirasi serta mampu mengakomodasi kepentingan civitas akademika. Mungkin hanya sedikit yang benar terpilih. 

Jika melihat jumlah suara dan kemungkinan calon yang naik dari 9 anggota senat fakultas, misalnya 4 yang mencalonkan, maka yang tersisa berebut suara tinggal  5 suara. Jelas ini tidak sehat dan tidak demokratis, kurang baik untuk terciptanya iklim kampus yang sehat dan kondusif dimasa datang.

Tadinya saya berharap, jika tidak seluruh civitas akademis fakultas (termasuk mahasiswa) minimal Forum Dosen dan Serikat Karyawan Fakultas misalnya. Tetapi apa yang terjadi kemudian merupakan bagian yang jadi tidak penting.

Apa yang terjadi di Untirta sangat paradok dengan Pemilihan Rektor secara langsung desember tahun lalu, bahkan ketika itu dorongan motivasi dari rektorat dan dekanat begitu amat sangat kuat. 

Begitupula apa yang digagas aktivis mahasiswa melalui Tim Independen, “Sukses dengan Pilrek Langsung” tetapi kalah (gagal pildekan) di tingkat fakultas sesungguhnya mencerminkan kekalahan dikandang sendiri, yang justru sangat fundamental. Begitupula para dosen lainnya termasuk saya, gagal mencegah lahirnya SK. Rektor tersebut melalui Forum Dosen Perubahan Untirta, sehingga kekuatan tidak lagi sekuat dahulu.

Apa mau dikata, “nasi sudah jadi bubur,”konflik perbedaan pendapat tersebut, semoga bukan api dalam sekam yang akhirnya disesali semua pihak “.

Semoga !!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s