Dewan Mahasiswa

Idealitas dan Realitas Organisasi Mahasiswa Intra Kampus

Refleksi Dewan Mahasiswa

Teguh Iman Prasetya

Jangan Jadi  Seekor Ayam! Jadilah Elang Perkasa !

Jika seekor anak elang lahir dibesarkan induk ayam dan tidak menyadari dirinya seekor elang, maka dia akan mati sebagai anak ayam, bukan seperti seekor elang yang perkasa dan terbang bebas.

Jargon ini saya ambil dari sebuah blog milik IPB Bogor Fakultas Kehutanan atas nama kos roempoet (seperti rumput). Cukup menarik,  berisi tentang organisasi kemahasiswaan BEM dan DPM dengan segala aktivitasnya yang cukup banyak. Memulai dari sini barangkali kita perlu melakukan perubahan besar dalam hal ini reaktualisasi peran organisasi mahasiswa intra dan aktivis mahasiswa nasional.

Refleksi Sejarah Mahasiswa

Organisasi mahasiswa adalah wadah khusus bagi para mahasiswa sebagai tempat proses pembelajaran  dan  pendidikan yang diperoleh melalui program kegiatan yang digelar baik secara formal maupun non formal. Organisasi formal mahasiswa  sejak dulu hingga hari ini telah membagi perannya berdasarkan konsep trias-politica  dalam membentuk pemerintahan mahasiswa. Struktur organisasi mahasiswa terbagi berdasarkan peran dan fungsinya masing-masing, legislatif-yudikatif (DPM/MPM Universitas dan Fakultas, Musma-Mubes-Sidang Istimewa) dan eksekutif (BEM Universitas, BEM Fakultas, dan Himpunan Mahasiswa). Sedangkan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) lebih berperan sebagai apresiasi dan kegiatan minat bakat mahasiswa termasuk dalam struktur BEM, atau hanya sebatas koordinasi saja.

Mungkin yang belum ada hingga saat ini adalah otonomi khusus terlepas dari  struktur dominan, hanya  sebatas pada wilayah kesetaraan koordinasi,  konsultasi, serta transparansi-akuntabilitas dengan  pihak rektorat dan dekanat. Dengan demikian seorang Presiden Mahasiswa sejajar dengan Rektor bertanggung-jawab pada wilayahnya masing-masing.

Reformasi 1998, 9 (sembilan) tahun lalu peran mahasiswa sangatlah besar sebagai kaum revolusioner-pelopor pendobrak rezim  kemapanan (status quo) orde baru, tetapi lupa membangun dan memberikan conten (isi) jawaban masalah bangsa ini selanjutnya dan mengambil alih kepemimpinan (setidaknya orang muda yang diperhitungkan  ditingkat nasional).

Para aktivis dimasa lalu  banyak berkiprah dimasa awal reformasi, mereka  terjun diberbagai bidang dan profesi  diluar kampus, tetapi lupa melakukan regenerasi, kaderisasi, serta membangun  sistem yang lebih demokratis dan bertanggung-jawab. Bahkan tidak ingat lagi, bagaimana dahulu para mahasiswa dikerdilkan melalui depolitisasi kampus sejak tahun 74-78, melalui sistem yang sangat menindas di masa orde baru dan mengalami banyak pembiasan hingga hari ini.

Dimasa orde lama organisasi mahasiswa ekstra kampus (HMI-GMNI-PMKRI-PMII, dsb) sangat ditakuti Soekarno.Ketika Soekarno jatuh oleh salah satu kekuatan mahasiswa tersebut dan berebut pengaruh diwilayah elit rejim baru,  maka terjadilah pergeseran posisi yaitu; aspirasi politik mahasiswa berpindah pada organisasi intra kampus,  yang relatif lebih independen dari politik aliran ideology dan vested interest dengan partai politik tertentu.

Sementara itu realitas social yang terjadi diluar kampus, politik sebagai panglima telah digantikan dengan rejim yang menghendaki stabilitas   ekonomi, politik, bahkan social – budaya masyarakat, sehingga mengalami penetrasi sangat keras mengikuti  kehendak sentralisasi rejim Soeharto, ABRI, Golkar, dan Birokrasi.

Kekayaan sumber daya alam kita yang kaya dengan bahan tambang bernilai adalah sebagai jaminannya untuk mendapatkan hutang bantuan luar negeri (sekitar  1500 trilyun, data 1999), dan membelah system ekonomi Pancasila dengan kapitalisme serta modernism, juga segelintir elit seputar Istana Cendana  yang menguasai akses ekonomi tersebut. Dimulailah babak baru rejim yang sangat berkuasa penuh, dengan kroni  tanpa kompetisi sehat,  menguasai semua lini kehidupan masyarakat.

Mahasiswa bergerak dan menangis sebagai martir, jatuh pada kekuatan intervensi militer dan akhirnya Dewan Mahasiswa dibubarkan. Era 70-an  adalah masa pergolakan pemikiran  dan pertempuran terakhir masa itu, bahkan  orang yang tersisa sebagai demonstran dan pemikir intelektual, Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib sebelum meninggal dunia.

Peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) akhirnya telah membuat Soeharto berang dan cemas terhadap kekuatan mahasiswa, sehingga melalui tangan besi militer dan menteri pendidikan membungkam suara mahasiswa melalui; Surat Keputusan Depolitisasi  kampus SK. No. 028/1978,  Tentang Hapuskan Hak-Hak Politik Mahasiswa, Keputusan Kopkamtib No. Skep.02/Kopkam/ 1978,  Tentang Pembekuan Dewan Mahasiswa, Pemberlakuan NKK-BKK No. 0156/u/ 1978, SK. NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus)-BKK (Badan Koordinasi Kampus) No. 0457/m/1990, SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi) bertanggung-jawab pada rektor.

Sejak itu pewarisan budaya organisasi yang sehat dan independen (bukan hanya masalah politik) telah diputuskan hingga saat ini. Maka pupuslah sudah  mahasiswa dengan jargon mithosnya sebagai jagoan agent of change (agen perubahan), moral-force (kekuatan moral), social-control (penjaga masyarakat), digantikan budaya baru  yang sangat parah, bahkan menjadi penjilat kekuasaan, tukang lobi dan kolusi, sekalipun berjuang untuk mendapatkan haknya sendiri. Mahasiswa diam dan membeo terhadap rejim berkuasa Soeharto. Kondisi ini berlangsung cukup lama hampir 10 tahun lebih, terjadi  diwilayah institusi pendidikan. Ketidak-berdayaan dan ketakutan sangat mencekam masa itu dengan operasi kekuatan militer yang mampu memporak-porandakan kampus. Pengendalian yang sangat ekstra ketat untuk kegiatan mahasiswa diluar saja, harus wajib lapor pada dinas sospol.

Tenda Darurat Organisasi Non Formal dan Pers Mahasiswa

Organisasi non formal lahir ketika diawali dari kesadaran kritis terjalin sangat intens dikalangan para aktivis mahasiswa. Bagi yang tidak puas dengan lembaga formal para aktivis gerakan mahasiswa itu mendirikan organisasi non formal dan bekerjasama dengan organisasi pers mahasiswa. Seringkali mereka melakukan diskusi dan aksi melalui pertemuan formal dan non formal dimimbar bebas, dan tempat-tempat lain pada masa itu.

Sejarah berulang tahun kembali, organisasi intra kampus tidak lagi diminati mahasiswa mahzab progresif. Kalaupun duduk dalam kepengurusan hanya dalam rangka siasat memanfaatkan fasilitas  untuk perjuangan. Begitupula organisasi kader yang selama itu tenggelam, seperti HMI-GMNI-PMKRI-GMKI,dsb. berjalan sebagai proses pembelajaran yang efektif, dan berperan lebih banyak diwilayah penempaan cultural Intelektual, serta  melakukan aksi moral-ideologis sangat besar seperti pada tahun 1993 misalnya, hapuskan SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) bersama organisasi lainnya.

Kegelisahan sebagai orang muda akhirnya tidak dapat dibendung lagi,  jatuhlah rejim Soeharto pada tahun 1998 meninggalkan jejak luka dan masalah yang sangat berat dan akut. Warisan hutang, korupsi, pelanggaran HAM, dosa partai politik dan militer,  kebijakan politik, dan ekonomi sebelumnya, disintegrasi bangsa diberbagai daerah, seperti bom waktu yang akhirnya siap meledak.

Borok Reformasi dan Reposisi Organisasi Mahasiswa

Apakah yang akan terjadi jika reformasi sebagian besar diisi oleh orang-orang orde baru? Maka hasilnya adalah agenda reformasi jalan di tempat dan berjalan tersendat-sendat. Terbukti kemudian perubahan paradigma hanyalah janjji kosong belaka, belum begitu banyak  perubahan signifikan yang berarti untuk rakyat. Banyak sebab yang sangat kompleks dan latar belakang hal ini terjadi. Selain itu juga disebabkan oleh gerakan radikal yang kehilangan  pengaruh.

Pergeseran eskalasi masalah jelas terjadi, dahulu musuh bersama dibangun untuk meruntuhkan kekuatan rejim Soeharto, kini kita menghadapi diri kita dan kawan sendiri.  Dahulu kita sibuk dengan masalah yang berada ditingkat pusat, kini kita juga sibuk berat dengan masalah yang kemudian merembes ditingkat daerah. Bukan main !!!

Dampak demokrasi liberal, masalah korupsi dan penegakan hukum, sector ekonomi yang tidak lagi berpihak pada rakyat, kebijakan anggaran publik dan birokrasi, dsb., jika diurai satu persatu amat sangat panjang dan membutuhkan analisa serta penjelasan sangat detail, begitu pula solusi cerdas yang dapat menjadi obat mujarab bagi rakyat. Itupun masih harus dikaji dan seringkali terjadi perdebatan yang melelahkan.

Menghidupkan kembali elan spirit organisasi mahasiswa dimasa lalu seperti  Dewan Mahasiswa  artinya, melakukan percepatan pendewasaan dan kemandirian, juga tujuan organisasi. Bukan berarti hanya sekedar memanfaatkannya sebagai alat untuk mengumpulkan massa (matchforming) belaka, tetapi  manifestasi sebagai  insan intelektual  dan akademis yang bertanggung jawab dan cerdas.

5 (lima)  hal yang harus diambil  dan dipetik dari Pemerintahan Mahasiswa (Student Government) tersebut adalah; 1. pemilu raya mahasiswa, 2. independensi organisasi mahasiswa, 3. pemerintahan mahasiswa yang baik dan bersih  (good and clean student  government), 4. otoritas dana kemahasiswaan, 5. keterbukaan dan bertanggung jawab (transparancy and acuntability).

Inilah substansi dari adanya Pemerintahan Mahasiswa, tentu setiap langkah membutuhkan adanya solusi yang sama,  saling menguntungkan, juga menghilangkan perbedaan, dan kecurigaan diantara para aktivis. Seperti misalnya ketika dimasa lalu dibeberapa kampus, bagaimana UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)  dan SMPT/ SEMA bersiteru sangat keras mendapatkan proporsi jatah dana kemahasiswaan,  dan secara struktur hanya sebatas garis koordinasi saja (akibat NKK-BKK, mungkin pragmatisme, kecurigaan,otonomi, profesionalitas, dsb).

Hal ini juga disebabkan tidak transparannya dana kemahasiswaan yang dikelola oleh pihak rektorat- dekanat dan system  yang dibangun tersebut diatas, akhirnya berujung merugikan kedua lembaga mahasiswa tersebut. Karena tarik menarik kepentingan ego sektarian, berakibat tidak pernah bersatunya para mahasiswa dan organisasi mahasiswa intra kampus yang sehat. Jadi sangat wajar,  jika di UI dan UPI peran dan fungsi PR 3 dan PD 3 seperti dimasa lalu sudah dihapuskan (dibubarkan).

Dana turun semuanya (block grand)  lebih tepat sebagai upaya  memberdayakan dan belajar bertanggung-jawab dengan alokasi dana yang telah ada. Maka, sudah saatnya dana kemahasiswaan dikelola oleh mahasiswa dipertanggung-jawabkan kepada mahasiswa, dan diawasi secara bersama pada  periode kepengurusan berakhir.

Jalinan organisasi yang dibangun secara structural hendaknya dipahami sebagai bagian tubuh yang utuh tidak berjalan sendiri-sendiri, apalagi didasari kepentingan tertentu. BEM Universitas, Fakultas, Himpunan misalnya, garis  komando mestilah jelas dan jangan melanggar kesepakatan yang telah disepakati bersama, serta harus mampu menghilangkan vested interest  perbedaan kepentingan ideology  masing-masing aktivis diluar organisasi intra kampus. Jernih, logis, dan ilmiah dalam koridor yang dapat dipertanggung-jawabkan.

Masalah konflik lainnya diluar AD/ART, hendaknya diselesaikan pula menggunakan cara penyelesaian rekonsiliasi (musyawarah), negosiasi,  mediasi, arbitrase, dan pengadilan, jika dibutuhkan untuk mencegah dampak  lainnya. Dapat meminta bantuan lembaga yang setara seperti rektorat, jika diminta.

Program kegiatan mahasiswa harus lebih berakar pada kebutuhan serta misi-visi sesuai dengan tujuan organisasinya, serta tidak mengambil  kegiatan yang sama. DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) Fakultas misalnya,  harus mampu menjadi jembatan aspirasi dan jaringan (network) antar kelas dikalangan mahasiswa serta lembaga legislative yang mengawasi, juga meminta laporan pertanggung jawaban BEM, begitupula DPM universitas. Himpunan mahasiswa sesuai dengan bidang keilmuannya diberdayakan dengan atmosphere akademis yang kondusif, sementara  BEM Fakultas menyoal kebijakan strategis dan politis, yang mestilah mumpuni mengambil keputusan.

Begitupula seorang Presiden Mahasiswa BEM dengan para menterinya ditingkat pusat mampu menjadi jembatan lintas aspirasi antar fakultas dan mencermati kondisi real yang terjadi didalam, serta eksternal kampus, juga mengambil kebijakan yang tepat dan telah diperhitungkan secara matang.  Saya sangat berharap sekali sejak dulu seorang Presma memiliki wibawa yang sama dengan seorang Rektor.

DPM dan MPM (Majelis Perwakilan Mahasiswa) sebagai lembaga legislatif ditangan andalah aspirasi mahasiswa, mengawasi, dan menerima laporan  pertanggung jawaban BEM dibuktikan melalui Musma, Mubes, bahkan Sidang Istimewa. Untuk UKM sebagai organisasi minat dan bakat mahasiswa, teruslah berkarya dengan segala upaya dan kemampuan, serta kreativitas yang dimiliki.

Forum Komunikasi UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang umumnya dibangun sejajar dengan  BEM hendaknya  mampu menjadi forum yang dapat membantu akses lancarnya kebutuhan kegiatan mahasiswa, dan hendaknya juga tidak begitu alergi dengan realitas sosial dan politik yang terjadi, harus saling sinergis ! Jika seperti Dewan Mahasiswa dimasa lalu, mungkin sudah dibawah garis komando seorang Presma.

Di Untirta sendiri adanya struktur baru seperti KBM (Keluarga Besar Mahasiswa) selama ini cukup bagus sebagai wadah keluarga besar yang mencoba menjadi perekat ikatan emosional para aktivis dan permasalahan yang ada diseputar kampus, bahkan menjadi penyelenggara kegiatan besar seperti PSA-OPSPEK kampus dan kegiatan lainnya. Tetapi  suatu saat dimasa datang akan menyulitkan peran BEM/DPM/MPM Universitas jika bertabrakan, jadi  mesti diatur  dengan  mekanisme peraturan yang jelas.

Demikian sedikit yang saya pahami mengenai organisasi intra kampus, dan tanpa mengurangi peran dari komunitas lain yang berperan cukup besar bagi dunia kampus kita. Sebagai penutup kurang lebihnya mohon maaf, bila ada yang kurang berkenan. Wassalam. Hidup Mahasiswa! Salam Revolusi !

7 responses

  1. baca kembali apa yang dapat dihasilkan oleh kaum muda

    Selasa, November 3, 2009 pukul 6:29 pm

  2. Demo Crazy

    Ngomong apa sich?
    trus dapet apa?

    Senin, November 2, 2009 pukul 4:09 am

  3. arifin

    Yang muda yang berkarya.
    Yang muda saatnya memimpin bangsa.
    Yang muda yang merubah dunia
    Yang muda pioner reformasi dan revolusi.

    Good luck.

    Keep brothership.

    Dewan mahasiswa
    Unis Tangerang.

    Senin, Desember 1, 2008 pukul 6:07 pm

  4. Bagus Juga, idealisme seorang mahasiswa memang perlu tetap dipertahankan jangan sampai kita diinterpendi oleh suatu golongan yang punya kepentingan politis. oh ya aku gi nyari informasi tentang DEMA Nich kalo da yang punya tolong kirim ya. ke alamat adied_daruz@yahoo.co.id. syukron

    Minggu, Mei 11, 2008 pukul 4:05 pm

  5. isdiyanto

    hidup idealisme mahasiswa….
    cuman seringnya luntur setelah bukan mahasiswa lagi…
    menyedihkan…
    salam daria: http://simpanglima.wordpress.com/

    Sabtu, Maret 29, 2008 pukul 8:59 am

  6. Dewa

    Bentuk Dewan Mahasiswa, Rebut Demokrasi Sejati !!!
    MAHASISWA-RAKYAT BERSATU MENYERUKAN PADA REZIM NEOLIBERALIS SBY-JK ” AMBIL ALIH ( NASIONALISASI ) ASET PERTAMBANGAN ASING UNTUK PENDIDIKAN GRATIS DAN BERKUALITAS BAGI SELURUH RAKYAT”!!!

    Selasa, Maret 18, 2008 pukul 7:45 pm

  7. Yah, bagus juga , perkembangan organisasi kampus di Indonesia, jujur di kampus saya organisasi kampusnya cenderung kaku dan statis mungkin karena sekolah kedinasan kali y

    Minggu, Desember 16, 2007 pukul 7:01 am

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s