Metamorfosa

KUMPULAN CERPEN

Mottingo Busyee.. itu, Tidak Lagi Busyet!

Mottingo Busye itu telah tiada didunia mengakhiri hidupnya dengan metamofosa karyanya yang sangat dalam dan indah. Era 80-90 an bagi pecinta novel, mungkin tidak akan melupakan karyanya sebagai roman picisan yang lebih menonjolkan unsure biologis terkadang vulgar. Sangat tidak menarik bagi para intelektual. Tetapi, siapa yang menyangka diakhir tutup usianya, membuat karya cerpen yang sangat bermakna, dan reflektif kritis bagi banyak orang.

Wali Kesepuluh, Dua Tengkorak, dan Sikil Anabrang, serta kumpulan karya cerpen lainnya , terasa sekali sangat bermutu, dalam, dan jujur. Potret realitas dan spiritualitas yang digambarkan begitu sangat mempesona, dengan kepolosan ala budaya timur yang mulai menukik pada kedalaman suatu esensi.


Wali Kesepuluh, bercerita tentang perjalanan dan pergolakan seorang mahasiswa jebolan Universitas Al Azhar dari Kairo Mesir, yang belajar dan mencoba memahami filsafat barat dan timur. Socrates, descrates, dan ahli-ahli filsafat lainnya, semua dipahaminya satu persatu. Pengaruh pergaulan baratpun ia jalani, bahkan ketika di Prancis pernah berzina dengan seorang pelacur kelas tinggi hingga menjadi bahan olokan kawan-kawan mahasiswa dan dosennya.

Dengan gaya narasi bertutur sangat tajam, Motingo Busye menggambarkan pencarian diri seorang Hafidz, diantaranya dari pemikiran Descrates, Cogito Ergo Sum, “Aku berfikir, maka aku ada”, hingga filsafat eksistensialisme ala Albert Camus, “Aku bertindak, maka aku ada”. Banyak sudah, filsafat yang dipahaminya semasa di Al-Azhar.

Masalah kemudian muncul, ketika Hafidz pulang kembali kekampung halaman, dia membuang semua filsafat, akhirnya mencoba memahami, dan mempraktekan intisari hakekat hidup dengan akalnya. Ditengah rasa berdosa akibat perjinaan di Paris dan kadang sering menjadi bahan olokan kawan-kawannya semasa dibangku kuliah,  godaan kembali datang dari tetangganya seorang perempuan yang sangat cantik, karena seringkali bertandang diwaktu sore menumpang mandi.

Hafidz dalam mempelajari hakekat hidup begitu sangat keras, bahkan seekor kucingnya diikat pada sebuah bangku, ikut dilibatkan untuk merasakan lapar bersamanya. Suatu saat ketika perempuan itu datang menggodanya untuk menumpang mandi, Hafidz mulai khilaf, dan seringkali mengintipnya dari balik pintu kamar mandi.

Hafidz semakin lama semakin tidak tahan dan merasakan timbul pergolakan sangat keras pada dirinya (split personality). Antara mengajaknya bercinta atau kembali menekuni kembali hakekat hidup dengan kekuatan akalnya. Akhirnya keputusan paling berani dan ditengah rasa berdosanya, Hafidz membutakan matanya. Retina mata dianggap benda yang menghalanginya. Retina mata juga dianggapnya hasil pantulan dari cahaya terang pada benda berwujud yang kemudian terekam dalam otaknya, mengakibatkan rangsangan (stimulus) pada dirinya.

Maka menjadi butalah ia, untuk mempertahankan prinsipnya. Sang gadis seperti biasanya datang diwaktu sore begitu sangat terkejut, dan kaget bukan main, ketika melihat sebuah mata Hafidz, terguling-guling dimainkan seperti bola, dan mulai dimakan kucing.

Jeritan yang keluar sekaligus mengakhiri hidupnya, karena terkena serangan jantung mendadak, sehingga membuat para warga kampung keluar dari rumahnya dan mulai mengepung Hafidz, yang dituduh hendak melakukan perkosaan dan membuat perempuan itu meninggal dunia.

Hafidz dipukuli hingga sekujur tubuhnya babak-belur. Ditengah nyawanya yang akan mulai lepas, Hafidz tersenyum sangat tenang, sangat bahagia, juga sangat misterius, seperti tidak merasakan sakit lagi hingga mengagetkan bagi warga kampung. Hafidz memahami ketiadaan dan ketuhanan pada dirinya. Hafidz betul-betul seperti Al-Hallaz dan Siti Jenar pada detik terakhir.

Akhirnya, seluruh warga kampung mengetahui latarbelakang masalah sesungguhnya, dan menguburkannya dengan rasa menyesal, takjub, dan kagum, apalagi di kamarnya berserakan buku-buku agama yang sangat banyak. Orang kampung itu menjulukinya wali kesepuluh.

Sikil Anabrang, setting social dan budaya yang diambil sebagai isi cerita ini diambil sekitar masa 70-80 an, serta menyampaikan nuansa kejujuran dengan gaya bertutur narasi yang sangat segar (fress) juga jenaka.

Sikil Anabrang, seorang anak muda putra  ajun komisaris polisi dan keturunan bangsawan tumengung dari Kesultanan Yogyakarta. Mahasiswa yang sangat ganteng dan terkenal dari sebuah universitas di Yogyakarta dengan cirikhas menunggang kuda putih, yang juga diberi nama si Putih. Semua orang di Yogya sangat mengenalnya sebagai pribadi yang jujur, polos, bahkan naïf, juga menghormatinya sebagai putra seorang bangsawan. Seringkali masuk koran dan para wartawan banyak mengenalnya sebagai pribadi yang menarik.

Kisahnya dimulai dan diakhiri dari kisah cintanya pada seorang mahasiswi, dengan gayanya yang urakan, norak, dan kadang tidak tau malu, membuat sang gadis tersipu malu. Sedangkan kisah lainnya, bagaimana Sikil Anabrang memberi pelajaran dengan moralitas gaya ndeso pada produser dan sutradara film, yang ingin menariknya menjadi actor terkenal di Jakarta. (Teguh Iman Prasetya)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s