Kontemplasi

Menulis atau Tidak ?

Menulis ranah spiritualitas membuatku berfikir, menuangkan ide, dan akhirnya kemudian ada (eksis). Hanya sekedar menghapal dan memahami, mungkin tidak berguna sama sekali pada tataran menghayati dan implementasi. Sekali lagi mohon maaf, saya hanya sekedar menghapal dan memahami dari setiap perjalanan dan pengalaman, bahkan mungkin hanya seorang eksistensialis, belum pada taraf menyadari dan mempraktekan kembali. Aku berfikir bukan berarti harus ada, tetapi mestinya aku menyadari, bukan jarkoni (ngajar-ngongkoni, ngajar bise, nglakoni ore bise).

Manusia yang kemudian seperti sebuah mahakarya buku, memahami dan menghayati tanpa cela juga ada. Seperti halnya Muhammad yang terkenal sebagai seorang buta huruf, melalui kepribadiannya yang agung dan mulia, keluar dari setiap kata-katanya yang sangat puitis dan transenden menyampaikan wahyu.

Begitupula seorang penjaga masjid yang tidak terkenal, karena kearifannya didatangi  seorang ahli hadis terkenal hingga membuat banyak orang yang terheran-heran. Ketika orang bertanya, dijawabnya dengan sederhana, “Aku belajar kedalaman ilmu hakekat agama dan kealiman padanya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s