Sore hari yang cerah di gedung auditorium Untirta, “Gelar Sastra Kampus” diselenggarakan selama dua hari, atas nama matakuliah Bahasa Indonesia (2 sks) yang digawangi oleh 5(lima) orang dosen FKIP Untirta yaitu; Nandang Aradea, Moh. Wan Anwar, Firmansyah, Ahmad Supena, Herwan FR.
Pada acara tersebut digelar pementasan teater, pemutaran film dokumenter, pembacaan puisi dan prosa, diiringi musikalisasi yang lumayan bagus dari para mahasiswa FKIP tersebut. Proses belajar terlihat masih berjalan dan memberi harapan untuk munculnya para sastrawan baru dikampus.
Dalam acara tersebut selain dihadiri PR 3 Untirta, mantan rektor sebelumnya Prof. Dr. Yoyo Mulyana. M.Ed. yang juga sesepuh sastra, ketika memberikan sambutan mengatakan, ” Mengutip Phinix, gerak dan ekspresi haruslah bermakna”. “Para pemain haruslah mampu memberikan makna terhadap apresiator, begitupula apresiator terhadap para pemain.”
“Makna juga diterjemahkan sebagai ungkapan rasa syukur terhadap tuhan dan orang lain, apa yang kita lihat harus memahami makna didalamnya, misalnya, kebermaknaan hidup melalui cinta yang disampaikan”.
Sementara itu Ahmad Supena salah seorang dosen Untirta memberikan komentar, “Sastra memiliki dimensi yang sangat luas, bahkan realitas hidup dan tinjauan disiplin ilmu yang berkaitan dengan tema dan isi sastra yang disampaikan.”
Menarik dari acara tersebut tidaklah berlebihan kiranya, sastra sebagai ungkapan seni dari banyak sisi kehidupan dan memiliki kebermaknaan, rasanya bukanlah hal yang aneh bagi kita, dilihat dari sudut mana sastra dipahami dan diterjemahkan. (Teguh)
Like this:
Be the first to like this post.