Matinya Iklan Politik
Oleh: Sumbo Tinarbuko
Ketika kita menyaksikan iklan politik yang bertebaran di berbagai jagad media luar ruang, media massa cetak, dan elektronik, sebenarnya kita sedang melihat upaya keras para caleg dan
kandidat presiden merelasikan iklan politiknya sebagai sebuah realitas kedua. Bangunan realitas kedua tersebut ditopang dengan aspek-aspek komunikasi visual, relasi-relasi sosial dan kultural yang berperan membangun pencitraan dirinya.
Para caleg dan kandidat presiden mengemas pencitraan dirinya, lewat citraan visual dengan menekankan pesan verbal yang bertemakan: ’peduli wong cilik’, ‘peduli orang miskin’,‘peduli kesehatan bagi rakyat miskin’, ‘peduli produksi dalam negeri’, ‘peduli dengan nasib petani’, ‘peduli pendidikan murah dan gratis’ atau ‘peduli dengan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia’. Semuanya itu merupakaan janji politik yang terlihat indah dan menentramkan hati calon pemilih. Tetapi realitasnya sulit untuk direalisasikan di kehidupan nyata. Read the rest of this entry →

Menggambar komik atau cerita bergambar (cergam) sekarang dengan bantuan software komputer sudah banyak digunakan para ilustrator melalui photoshop dan corel draw serta dengan bantuan digitalpoin dan touchscren yang tersedia. Karya yang dihasilkan tidak kalah dengan cara manual bahkan terasa sangat mudah dan banyak pilihan yang tersedia untuk pewarnaan dan lain sebagainya. Meskipun demikian masih ada komik dan film animasi yang menggunakan guratan tangan manual untuk menonjolkan karakter yang kuat.Namun kini sudah mulai terjawab dengan teknologi komputer sebagai alat bantu yang mudah. Untuk menghasilkan gambar yang bagus, teknik cara manual dan dengan bantuan teknologi hingga kini sebagian besar masih tetap membutuhkan bakat yang kuat dari seorang ilustrator komik, kecuali yang hanya mengandalkan kekuatan ide atau narasi sangat bagus pada komik serius serta gambar kartun juga karikatur. Contoh bakat yang kuat adalah komik manga dari Jepang dan komikus dari Amerika juga RA. Kosasih, Ganes TH, Jan Mintaraga, Teguh Santosa, Djair, Hans Jaladara, dll. dari Indonesia.