Simulasi Perang Indonesia/Malaysia Dengan Malaysia/Singapura, Kekuatan Militer Di Kep. Spratley,dan Scenario Planning

Simulasi Perang Indonesia/ Malaysia Dengan Malaysia/Singapura, Kekuatan Militer Malaysia Di Kep. Spratley,dan Scenario Planning

dump01268539

Harapan kita tentunya perang ini tak akan pernah terjadi, namun, let’s hope for the best, prepare for the worst. Di bawah ini beberapa scene dari simulasi yang saya buat di Jane’s Fleet Command yang sudah saya rombak sehingga bisa mensimulasikan Indonesia & negara-negara di sekitarnya, termasuk Singapura, Malaysia. Dalam gambar-gambar di bawah ini, saya membuat simulasi dimana Indonesia & Malaysia berada di satu pihak (kawan), dan Singapura diposisikan sebagai lawan.

Hasil akhir, tidak disangka kita cukup bisa berbicara. Kapal selam diesel elektrik kita berperan besar melumpuhkan armada lawan. Sebagai bayarannya, banyak kapal permukaan kita yang tumbang dihajar Harpoon yg diluncurkan dari kapal permukaan Singapura maupun dari F-16C/D nya yang berkemampuan anti kapal permukaan. Pesawat-pesawat udara kita juga banyak yg harus jadi korban.

dump00197702

dump01143964

dump00458114

dump01090551

dump01143964

dump01268539

Sumber :

http://www.tandef.net/simulasi-perang-indonesiamalaysia-vs-singapura

Jika Terjadi Perang Indonesia VS Malaysia

Saya selalu mikir kenapa pemerintah Indonesia kayaknya adem ayem aja menanggapi provokasi Malaysia Ternyata setelah Googling ke sana kemari terungkap fakta kalau memang Indonesia ga level buat menghadapi Malaysia…wuuuss sabar Gan, ga level disini maksudnya biar saya jelaskan dengan data temuan saya OK.

Data dari CIA Factbook

dan

Dari data diatas udah ketahuan kan?jika seluruh tentara Indonesia berangkat ke Malaysia sana bisa-bisa yang ada Tentara Malaysia dibantai tentara Indonesia

Nah ini ada yang lebih keren lagi, silahkan simak di GlobalFirePower, situs yang melakukan peringkat kekuatan militer negara-negara dunia, dan 20 kekuatan militer dunia.

Ehmm si Malay Jablay dimana ya???

Trus dibawah ini daftar budget anggaran pertahanan

Si Malay Jablay kemana lagee ya??

Trus ada nih Malay yang coment di forum sebelah katanya sebelum tentara Indonesia mau nyebrang sudah ditenggelamin sama angkatan laut Malaysia…n kita liat fakta lagi

Dan satu ini berasal dari situs www.nationmaster.com

Trus ada lagi tuh Malay nyolot, katanya pesawat tempur mereka jauh lebih hebat dari punya kita, memang betul sih tapi cobat liat personel angkatan udara kita.

Coba bayangin Gan kalau kekuatan darat kita konsentrasikan buat menghajar pangkalan-pangkalan terbang mereka dan galangan kapal mereka, pesawat dan kapal canggih yang mereka banggakan bakalan nyungsep ke dasar Samudra Hindia gan (pesawat dan kapal kan juga butuh pangkalan untuk isi bahan bakar).

SO BANGGALAH JADI ORANG INDONESIA!!!

Dan ini juga

Sumber :

http://tforce2009.wordpress.com/2009/07/04/indonesia-vs-malaysia/#comment-593


————————————————————————————————————————————————-

Mempelajari Peningkatan Kekuatan Militer Malaysia di Kepulauan Spratley

hasan0972's picture

Oleh: Kapten Inf Hasan Abdullah, Perwira Kodam VI/Tanjungpura, Anggota Dewan Pertimbangan TANDEF

Fakta-Fakta

Berdasarkan deklarasi Zona Ekonomi Eksklusif tanggal 20 September 1979, Pemerintah Malaysia mengklaim batas pelantar benua sepanjang 200 mil laut. Terumbu Layang-layang adalah bagian dari kawasan yang disebut sebagai Gugusan Semarang Peninjau (GSP). GSP ini terdiri dari beberapa terumbu karang di Kepulauan Spratley bagian selatan yang berada dalam kawasan ZEE Malaysia.

Terumbu Layang-layang sendiri adalah sebuah atol di bawah permukaan laut yang terpencil di Laut Cina Selatan, 306 km di sebelah barat laut Kota Kinabalu, ibukota Sabah. Letaknya tepat pada 7°22’23.48″N dan 113°50’46.23″E. Belum dapat dipastikan terumbu karang ini terbentuk oleh karang yang tumbuh di atas gunung api bawah laut atau sebuah gunung yang tenggelam.

Para ahli kelautan mengatakan bahwa di Terumbu Layang-layang terdapat 30 rangkaian karang yang membentuk atol sepanjang 7,3 km dan lebar 2,2 km. Pulau buatan yang ada merupakan satu-satunya tempat berlabuh yang aman di kawasan ini. Perairan di sekitar terumbu karang di wilayah ini masih asli, sehat dan terlihat dengan baik. Lereng curam di atas perairan yang dalam sangat indah untuk diselami. Biota laut berupa macam-macam ikan dan penyu, ganggang serta karang banyak terdapat di wilayah ini.

Beting pasir yang tampak di permukaan air laut menjadi tempat favorit untuk beristirahat bagi berbagai spesies burung laut, terutama burung layang-layang. Oleh sebab itu, terumbu karang di wilayah ini disebut sebagai Terumbu Layang-layang. Selain mengandung kekayaan alam gas alam dan minyak bumi, GSP juga kaya dengan biota laut dan keindahan alam bawah laut. Pendapatan nelayan dari hasil tangkapan ikan tuna saja dapat mencapai RM 70 juta setahun. Ini di luar hasil tangkapan lain seperti udang karang dan ikan kerapu.

Ditinjau dari aspek geostrategis, Terumbu Layang-layang terletak di ujung selatan Kepulauan Spratley yang disengketakan oleh negara Malaysia, Filipina, Brunei, Vietnam, Taiwan dan China. Di lokasi tersebut, Pemerintah Malaysia telah membuat sebuah pulau seluas 6 hektar di sebelah ujung timur atol tersebut sebagai pangkalan militer dan pariwisata yang disebut dengan Stesen Lima. Pendudukan Malaysia di terumbu ini dimulai sejak tahun 1979 melalui Operasi Tugu oleh Paskal, pasukan khusus marinir Malaysia, LST KD Raja Jarom dan satu detasemen helikopter Nuri. Pembangunan kawasan GSP oleh Pemerintah Malaysia sesungguhnya mendapat kecaman dari negara Filipina, Brunei, Vietnam, Taiwan dan Cina. Namun sejauh ini pembangunan fasilitas pertahanan dan pariwisata oleh Pemerintah Malaysia dapat berjalan lancar.

Sebagai pangkalan militer, GSP mempunyai beberapa pos pengamanan yang dibangun sejak tahun 1979. Penempatan pasukan pertama kali di Terumbu Layang-layang pada bulan Mei 1983 oleh anggota Paskal (Pasukan Khas Laut). Pada tahun 1985, fasilitas militer diperbesar dengan pembangunan barak. Stesen Lima (Terumbu Layang-layang) berfungsi sebagai pos induk untuk aktivitas di sekitar GSP. Pangkalan darat GSP diawaki oleh Pasukan Khas Laut (Paskal) TLDM dan Pasukan Pertahanan Udara (PPU) TLDM dipimpin oleh seorang perwira berpangkat komander (letnan kolonel). Fasilitas militer di kawasan GSP antara lain :

a. Satu unit pangkalan utama dan empat pos pengamanan (Uniform, Papa, Tango dan Mike).

b. Landasan udara sepanjang 1.367 meter yang dapat didarati dengan baik oleh pesawat CN235M. Meski demikian, pesawat Hercules C-130 dapat juga dipaksa mendarat walaupun dengan kondisi pendaratan yang kurang nyaman.

c. Pelabuhan yang ada di Stesen Lima (Terumbu Layang-layang) saat ini sepanjang 42 meter dan secara bertahap akan diperpanjang lagi untuk memungkinkan lebih banyak kapal-kapal perang dan kapal wisata yang dapat berlabuh.

d. Enam pucuk meriam Bofors kaliber 40 mm.

e. Sistem rudal Starburst.

Untuk meyakinkan kehadiran Pemerintah Malaysia di GSP, telah dibangun obyek wisata yang mengkhususkan pada wisata alam, penyelaman dan wisata pemancingan ikan laut dalam. Saat ini GSP, khususnya Terumbu Layang-layang telah menjadi obyek wisata terkenal di seluruh dunia yang dilengkapi fasilitas lapangan udara untuk pesawat ringan, pelabuhan kapal pesiar, pembangkit listrik tenaga diesel dan angin, resort serta sistem penyaringan air Reverse Osmosis (RO).

Wakil PM Malaysia, Datuk Seri Najib Tun Razak dalam kunjungan ke Terumbu Layang-layang pada hari Selasa, 12 Agustus 2008, menjelaskan bahwa pengendalian dan pendudukan suatu daerah yang disengketakan merupakan faktor utama bila kasus Ambalat dibawa ke Mahkamah Internasional. Oleh karena itu, Malaysia akan mempertahankan kehadirannya di perairan Ambalat. Najib yang juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan mengatakan, bahwa instalasi militer yang dibangun di pos-pos strategis garis depan merupakan bagian dari langkah-langkah untuk menyokong ZEE.

Analisa

Pemerintah Malaysia memandang penting aspek penguasaan wilayah dalam rangka melindungi kedaulatan negara atas wilayahnya sampai ke garis perbatasan pulau terluar. Sebagaimana telah tercatat dalam sejarah, kemenangan Malaysia atas Indonesia dalam kasus Pulau Sipadan dan Ligitan tahun 2002 serta kemenangan Singapura atas Malaysia dalam kasus perebutan Pulau Batu Puteh di Mahkamah Internasional tahun 2008 membuktikan bahwa penguasaan secara fisik terhadap wilayah yang disengketakan merupakan faktor penting untuk memenangkan kasus tersebut secara hukum di Mahkamah Internasional.

Penempatan pangkalan militer di wilayah ZEE yang disengketakan memberikan keuntungan taktis sebagai faktor penggentar bagi negara lain yang ingin mempersengketakan wilayah tersebut. Sedangkan pembangunan obyek wisata di Terumbu Layang-layang yang mengundang minat wisatawan asing di samping memberikan keuntungan secara finansial juga secara politis dapat membangun opini masyarakat internasional bahwa kawasan GSP adalah benar-benar milik Malaysia. Opini masyarakat internasional ini penting untuk memperkuat diplomasi apabila sengketa wilayah ini dibawa ke Mahkamah Internasional.

Peningkatan kekuatan militer Malaysia di Kepulauan Spratley, yang menurut Malaysia adalah kawasan ZEE-nya, dalam sengketa dengan Filipina, Brunei, Vietnam, Taiwan dan China merupakan bukti bahwa setiap negara akan melakukan tindakan apapun demi melindungi kedaulatan negaranya. Menurut Atase Laut RI Kuala Lumpur, dalam hubungan antar negara, istilah kawasan ZEE hanya dikenal dalam UNCLOS 1982 yang Malaysia sendiri tidak meratifikasinya. Menurut UNCLOS 1982, kondisi geografis Malaysia sebagai negara pantai tidak memberikan hak atas kawasan ZEE. Jadi, klaim Malaysia atas kawasan ZEE hanya merupakan klaim sepihak. Walaupun secara hukum peningkatan kekuatan militer Malaysia di kawasan ZEE tidak dibenarkan, Malaysia tetap melakukannya.

Dalam kasus Ambalat dengan Indonesia, peta wilayah perbatasan laut Malaysia yang digunakan oleh Pemerintah Malaysia adalah peta tahun 1979. Ini tahun yang sama dengan pendudukan pertama aparat keamanan Malaysia ke GSP Terumbu Layang-layang dan mungkin pendudukan ke Pulau Sipadan dan Ligitan.

Hubungan ini menunjukkan bahwa perhatian dan langkah Pemerintah Malaysia terhadap perlindungan aset wilayahnya telah ada sejak tahun 1979. Ungkapan Wakil PM Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak menunjukkan keinginan Malaysia untuk memiliki blok Ambalat semakin kuat sehubungan dengan kekalahan Malaysia dari Singapura dalam pemilikan Pulau Batu Puteh. Permasalahan Blok Ambalat yang saat ini kelihatan mereda tetap menyimpan potensi konflik, baik politik, ekonomi, sosial maupun militer. peningkatan kekuatan ekonomi dan militer Malaysia di sektor selatan pantai timur Sabah harus diwaspadai dan diantisipasi.

Kawasan titik-titik terluar perbatasan Indonesia, sebagaimana juga Blok Ambalat, merupakan suatu sistem yang di dalamnya terlibat berbagai pihak dan kepentingan. Permasalahan politik, ekonomi dan sosial mengenai kehidupan masyarakat, perdagangan lintas batas, illegal logging, penyelundupan TKI dan sumber daya alam di sekitar titik-titik terluar perbatasan harus dikelola dengan baik agar dapat memberikan keuntungan positif bagi perjuangan mempertahankan kedaulatan NKRI. Ancaman kedaulatan NKRI di sekitar titik-titik terluar perbatasan harus ditangani secara komprehensif dan memerlukan keterlibatan berbagai pihak.

Kondisi geografis Indonesia yang luas dan terdiri dari ribuan pulau serta sebagian besar wilayah perbatasan yang terdiri dari lautan merupakan suatu permasalahan krusial bila dihadapkan dengan konsep pertahanan yang menitikberatkan pada operasi patroli dengan menggunakan alutsista kapal perang dan pesawat tempur. Ini dapat dipahami mengingat kondisi keuangan negara yang belum mampu menyediakan alutsista sesuai kebutuhan untuk menjaga kedaulatan wilayah negara. Di sisi lain, kondisi geografis ribuan pulau yang dimiliki Indonesia dan rakyat Indonesia yang tersebar sampai di pulau-pulau terpencil tersebut merupakan aset yang sangat berharga bila dikelola dengan baik.

Pemerintah harus mengutamakan pembangunan infrastruktur sosial dan ekonomi di kawasan terpencil pulau-pulau terluar yang bersifat dasar maupun yang sesuai dengan potensi wilayah masing-masing. Selain infrastruktur dasar seperti kesehatan, pendidikan, transportasi dan sebagainya, potensi wilayah yang dapat dikembangkan di pulau-pulau terluar ini biasanya adalah budidaya dan pariwisata kelautan. Dengan pembangunan infrastruktur ini diharapkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan potensi ekonomi di daerah itu akan meningkat. Peningkatan potensi ekonomi ini diharapkan akan berpengaruh pada peningkatan pendapatan daerah dan pendapatan negara.

Satu hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam pembangunan masyarakat di pulau-pulau terluar adalah penanaman jiwa patriotisme dan nasionalisme serta kepedulian terhadap pertahanan (defense awareness). Sejarah telah membuktikan kemenangan bangsa Indonesia atas penjajah sesungguhnya merupakan kemenangan rakyat bersama politisi dan tentara. Dalam segi militer, rakyat membantu tentara dalam suplai logistik maupun informasi. Dalam penegakan kedaulatan negara di masa modern ini masyarakat penduduk pulau terluar merupakan aset intelijen yang dapat memberikan informasi adanya ancaman terhadap kedaulatan negara.

Seiring dengan peningkatan kesejahteraan, potensi ekonomi masyarakat dan negara serta kepedulian terhadap pertahanan masyarakat di pulau terluar, peningkatan kekuatan militer di kawasan tersebut secara bertahap juga ditingkatkan. Pangkalan-pangkalan militer perlu dibangun di pulau-pulau atau terumbu karang terluar, bila perlu di kawasan ZEE. Pembangunan pangkalan militer ini akan memberikan rasa aman bagi masyarakat setempat dan juga bagi investor yang ingin berusaha di kawasan tersebut.

Kesimpulan

Perjuangan mempertahankan kedaulatan NKRI atas suatu wilayah dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, terbukti tidak dapat dilakukan dari satu pihak saja. Diplomasi dan kekuatan militer saja, tidak akan mampu mempertahankan suatu wilayah dalam sengketa dengan negara lain. Sengketa titik terluar perbatasan adalah sengketa suatu sistem yang di dalamnya terlibat berbagai pihak dan kepentingan. Menarik pelajaran dari peningkatan kekuatan Malaysia di Kepulauan Spratley, ada tiga hal penting yang harus dilakukan dalam menjaga kedaulatan NKRI di pulau terluar yang perlu melibatkan berbagai pihak pemerintah maupun masyarakat dalam kondisi sekarang ini, yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat dan potensi ekonomi setempat, penanaman jiwa patriotisme dan nasionalisme masyarakat setempat serta diiringi dengan peningkatan peningkatan kekuatan militer secara bertahap di kawasan titik terluar wilayah negara tersebut.


Referensi:
1. http://www.mir.com.my/potpourri/places/mpwong/ destination/p_layang/index.htm.
2. http://www.newsabahtimes.com.my/nstweb/fullstory/20634.
3. DAILY EXPRESS, RABU, 13 AGUSTUS 2008; HAL 2.
4. MAJALAH PERAJURIT EDISI DESEMBER 2007; HAL 56.
5. MAJALAH PERAJURIT EDISI JANUARI 2008; HAL 44.
6. MAJALAH PERAJURIT EDISI FEBRUARI 2008; HAL 52.

Memahami Perencanaan Skenario (Scenario Planning)

krisna's picture

Oleh: Letkol Laut (K) dr.Wiweka, Kadiskes Lantamal XI – Merauke, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF

Saya tertarik untuk mengulas sedikit tentang scenario planning, karena dengan memahami dan membuat suatu skenario, kita dapat dengan mudah untuk membuat suatu strategi yang jitu. Awalnya, scenario planning memang digunakan oleh militer, akan tetapi di dalam perkembangannya, ilmu ini dipakai dalam segala bidang. Seandainya ilmu ini betul-betul diterapkan di Indonesia, saya berkeyakinan bahwa kita akan menjadi negara yang kuat, karena kita dapat mencegah terjadinya skenario buruk dengan strategi-strategi yang jitu.

Dasar-Dasar Perencanaan Skenario

Menurut Peter Schwartz, skenario adalah: A tool [for] ordering one’s perception about alternative future environments in which one’s decision might be played out right. Jadi, kurang lebihnya skenario adalah sebuah gambaran yang konsisten tentang berbagai kemungkinan (keadaan) yang dapat terjadi di masa yang akan datang. Jika kita melihat definisi di atas, maka dapat dijabarkan bahwa:
skenario bukanlah sebuah forecasting (ramalan) dalam pengertian bahwa skenario bukanlah sebuah proyeksi masa depan dari data yang ada pada masa kini.

Skenario juga bukan merupakan sebuah visi (vision) atau kondisi masa depan yang diinginkan (a desired future).
Jadi, skenario adalah jawaban dari pertanyaan “Apa yang dapat terjadi?”, atau “Apa yang akan terjadi jika……..?”. Hal tersebut dikarenakan dalam skenario dimasukkan unsur resiko, jadi berbeda dengan forecasting (ramalan) dan vision yang tidak memasukkan unsur resiko.

Berikut adalah tabel perbandingan antara Skenario, Forecast dan Vision:

Sedangkan pengertian Scenario Planning menurut Schwartz adalah sebagai berikut: Scenario planning is an effective strategic planning tool for medium to long term planning under uncertain conditions.
Sedangkan menurut Mintzberg, Scenario Planning is future planning in an era when traditional strategic planning is obsolete.

Dari definisi tersebut, dapat diketahui bahwa fungsi dari Scenario Planning adalah untuk membantu membuat dan mempertajam suatu strategi.

Bagaimana kita dapat membuat suatu skenario? Berikut adalah langkah-langkah dalam membangun sebuah skenario:

1. Identify Focal Issue (Focal Concern) or Decision, dimana kita harus mengidentifikasi isu utama atau masalah utama yang akan menjadi fokus untuk dijawab atau untuk diambil keputusannya.

2. Identify Key Forces. Di dalam langkah kedua ini, kita harus mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang diperkirakan akan mempengaruhi focal issue di masa yang akan datang.

3. Identify Driving Forces (change drivers). Di dalam langkah ini, kita harus mampu mengidentifikasi kekuatan-kekuatan yang dapat mendorong perubahan-perubahan yang berkaitan dengan key forces di atas. Secara umum, dalam konteks ilmu sosial dan ilmu politik, driving forces yang sering sekali teridentifikasi adalah faktor sosial, faktor politik dan faktor ekonomi.

4. Identifikasi Ketidakpastian (Identify Uncertainty). Di dalam langkah ini, kita harus mencoba mengidentifikasi ketidakpastian dari berbagai hal yang erat kaitannya dengan ketiga driving forces di atas (sosial, politik dan ekonomi).

5. Selecting the Scenario Logic. Di dalam tahap ini, kita harus menyusun logika skenario melalui suatu penelitian kualitatif terutama melalui wawancara mendalam atau dengan melakukan Focus Group Discussion untuk mendapatkan suatu skenario dengan alternatif-alternatifnya secara logis.

6. Fleshing Out the Scenario. Tahap ini merupakan tahap penguatan scenario. Pada tahap ini, perumus skenario dapat menambahkan berbagai data sekunder dan trennya untuk memperkuat berbagai pendapat dari narasumber dan para ahli yang sudah didapat dan ditulis pada tahap sebelumnya.

Skenario yang telah terbentuk dengan berbagai alternatifnya ini kemudian digunakan untuk menggambarkan tantangan bagi suatu organisasi (Negara, Militer, Perusahaan, dll). Gambaran dari tantangan tersebutlah bersama-sama dengan penilaian terhadap kondisi organisasi yang ada dipakai untuk menetapkan suatu strategi (scenario planning) apa yang akan dibuat bagi kepentingan organisasi untuk tetap bertahan (exist), atau untuk dapat mencapai tujuan yang ditetapkan.

Dengan kata lain, jika skenario telah selesai dideskripsikan dan tantangan telah dirumuskan, maka langkah berikutnya adalah merumuskan strategi (scenario planning) yang harus dibangun dan dijalankan agar skenario buruk yang mungkin terjadi dapat dihindari.

Contoh Skenario: Skenario RAND tentang Indonesia 2003

Berikut ini adalah contoh skenario tentang Indonesia di masa yang akan datang yang dibuat oleh RAND Corporation (Research and Development) pada tahun 2003 yang memperlihatkan sejumlah skenario yang mungkin muncul di Indonesia.

Sedikitnya terdapat 6 skenario yang dapat dibuat oleh RAND Corporation tersebut, masing-masing adalah: Democratic Consolidation, Muddling Through, Return to Authoritarian Rule, Radical Islamic Influence Or Control, Radical Decentralization (Federalism), Disintegration. Kesemua skenario ini dipergunakan oleh perusahaan-perusahaan internasional dalam menentukan strategi investasi bisnisnya di Indonesia agar mereka survive.

1. Scenario Democratic Consolidation

Skenario ini menurut RAND merupakan skenario terbaik bagi Indonesia. Dapat terjadi jika Indonesia terus mengembangkan demokrasi yang bersifat sekuler; membuat sejumlah kemajuan yang signifikan pada sejumlah masalah ekonomi yang bersifat sangat krusial dan terus mengembangkan otonomi daerah yang memuaskan daerah tanpa kehilangan kontrol pemerintah pusat terhadap kebijakan ekonomi makro. Dalam hubungan sipil-militer terdapat kontrol sipil terhadap militer melalui menteri pertahanan dan parlemen. Jika pertumbuhan ekonomi dapat lebih baik dan berbagai sumber daya tersedia, maka berbagai pengeluaran militer dapat dibiayai dari APBN dan bukan dari sumber-sumber off-budget. Dalam waktu dekat sulit mengharapkan militer sepenuhnya keluar dari kegiatan ekonominya, namun pengelolaan bisnis militer dapat dilakukan secara lebih transparan.

2. Scenario Muddling Through

Skenario kedua ini dibangun dari berbagai tren yang ada dimana Indonesia terus melangkah dalam jalur demokrasi, namun gagal dalam menuai kemajuan yang signifikan secara ekonomi, politik dan reformasi militer.

3. Scenario Return to Authoritarian Rule

Skenario ini muncul jika scenario muddling through memburuk dimana secara ekonomi, politik dan sosial tidak terjadi kemajuan yang signifikan di Indonesia sehingga kekuatan lama yang otoriter dapat masuk lagi.

4. Scenario Radical Islamic Influence Or Control

Menurut RAND, Pengambilalihan pengaruh politik yang didasarkan oleh pemikiran kelompok Islam radikal di Indonesia merupakan sebuah skenario yang mungkin terjadi, namun merupakan skenario dengan tingkat kemungkinan kecil. Tren radikalisme terlihat pada sejumlah kelompok kecil, namun sebagian besar (mayoritas) umat Islam di Indonesia justru mempunyai sikap moderat dan tidak mendukung radikalisme.

5. Scenario Radical Decentralization

Dalam skenario ini, digambarkan adanya tekanan dari daerah yang mengakibatkan Pemerintah Pusat menjadi lemah dan dapat mengakibatkan otonomi khusus yang diberikan kepada Aceh dan Papua direplikasikan ke seluruh daerah lainnya di Indonesia. Pada akhirnya dapat saja kekuasaan Pemerintah Pusat menjadi sangat terbatas hanya pada 5 bidang kewenangan saja. Negara Indonesia seperti ini akan menjadi Negara yang lemah, tidak stabil.

6. Scenario Disintegration

Skenario ini merupakan skenario terburuk bagi Indonesia. Skenario ini dapat terjadi jika Pemerintah Indonesia semakin lama semakin lemah dan muncul kondisi keos. (chaotic conditions). Pemerintah daerah pun merasa tidak ada gunanya lagi mempunyai hubungan yang baik dengan Pemerintah Pusat di Jakarta. Skenario ini juga dapat terjadi jika terjadi perpecahan dalam tubuh militer. Hal ini sangat mudah menjalar ke dalam masyarakat sipil yang juga mempunyai potensi perpecahan. Disintegrasi dapat terjadi bila ada kekacauan berskala besar. Ini merupakan skenario yang harus kita antisipasi & cegah sejak dini. Setiap gejala-gejalanya harus kita tanggulangi sejak sekarang, secara cepat dan bijak.

Dari uraian dan contoh di atas, mungkin dapat kita terapkan dalam membangun skenario Pertahanan Indonesia di masa depan sehingga kita betul-betul dapat membuat suatu strategi yang handal agar skenario terburuk dapat terhindari dan skenario terbaik untuk pertahanan negara dapat terwujudkan.

About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 194 pengikut lainnya.