USAID Buat Draft UU MIGAS 2000: Indonesia Dijajah AS?
Berikut adalah dokumen USAID (United States Agency for International Development, Lembaga Pemerintah AS) tentang “Penguatan Pengaturan Bidang Energi” di Indonesia yang menunjukkan campur tangan pemerintah AS mengenai sektor energi Indonesia.
Sekitar 90% migas Indonesia “dikelola” oleh perusahaan Multi National Companye (MNC) seperti Exxon Mobil, Chevron, Halliburtons, Unocal, yang mayoritas berasal dari AS. Dari “kerjasama tersebut” MNC dari AS mendapat keuntungan yang sangat besar melebihi dari kontrak bisnis yang wajar. Sebagai contoh jika ongkos pompa minyak (tidak termasuk pengilangan dan distribusi ke SPBU) yang wajar hanya sekitar US$ 4/barrel (Rp 231/liter), maka MNC mengeruk keuntungan hingga US$ 50/barrel atau lebih dari 12 kali lipat. Jika dikalikan dengan 365 juta barrel/tahun maka keuntungan lebih MNC tersebut adalah Rp 154,5 trilyun.
Sementara di dokumen CIA tentang Indonesia disebut bahwa sektor listrik di Indonesia masih “regulated”. Tarifnya masih “diatur” oleh pemerintah Indonesia, sehingga harganya terjangkau oleh mayoritas rakyat Indonesia yang masih menengah ke bawah. Hal ini jelas tidak menguntungkan bagi para “investor” AS yang ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Untuk itu harus dideregulasi. “Subsidi” harus dicabut sehingga harganya mengikuti harga pasar atau yang sekarang disebut “Harga Keekonomian”.
Untuk itu pemerintah AS lewat USAID mengucurkan jutaan dollar yang dikucurkan kepada kaki tangan mereka agar kebijakan mereka bisa berjalan di Indonesia, yaitu deregulasi, pengurangan subsidi (penaikan harga), dan reformasi bidang energi. Untuk itu USAID jadi “Donatur Utama” agar usaha tersebut berhasil. Untuk tahun 2001 dan 2002 saja mereka menganggarkan masing-masing US$ 4 juta (Rp 37,2 milyar) agar berhasil.
Berikut cuplikan dari dokumen USAID yang berjudul “Energy Sector Governance Strengthened”:












Minggu, Juni 29, 2008 pukul 1:58 am
Eyang Teguh, sampeyan ini koq vokalnya ke kebun tetangga doang, lha wong di rumah sendiri melaksanakan SMUK yang memberatkan masyarakat banten koq ya diem aja..sariawan yach?? atau takut gak dapat tunjangan….he he he…kalau begitu mending makan kuaci aja dueh…kuaciaaaan dueh loe…..kuman diseberang lautan terlihat tapi gajah dipelupuk mata, gak kelihatan…
Senin, Juni 30, 2008 pukul 6:21 am
bagus pak.. membuka wawasan sekaligus dapat menyadarkan putra-putri indonesia akan pentingnya ketahanan nasional. . . oh iya, saya baru saja mengirimkan 1 feature ke email pak teguh.. mohon kritik dan sarannya..
Senin, Juni 30, 2008 pukul 6:22 am
top!!!
Senin, Juni 30, 2008 pukul 2:17 pm
ha-ha-ha trimakaciiih kritiknya. Wajarlaah kampus negeri sekarang mulai dilikuidasi dan dipaksa cari uang dari sekarang (BHMN-yang belum waktunya). Mengenai keterlibatan sih sejak awal saya mengundurkan diri dari masalah tetek bengek SMUK cenderung kurang setuju meski DIAM. Kok kena sih ? kenapa belum berkomentar masalhnya saya belum lihat berapa pasokan anggaran yang diberikan oleh pemerintah untuk investasi pendidikan dikampus kami. Jika kurang, mungkin dianggap wajar oleh banyak pihak. Biayanya sumbangannya minimal 2,5 juta untuk SMUK.
Dikita sekarang anggran penddikan mash kalah dengan Kuba yang sukses memasok SDM berkualitas di WHO dan berbagai penjuru dunia terutama Tenaga Medis dan Para Medis dengan anggaran negara 50 % utuk pendidikan, meskipun secara ekonomi diembargo USA.
Kebon tetangga itu indah bahkan ada imbasnya terhadap kebun kami juga kebun orang lain. Dengan adanya kapitalisme – neo liberalisme disemua sektor termasuk SEKTOR PUBLIK artinya menimbulkan dampak multiplier efek, cost yang sangat tinggi bagi RAKYAT secara keseluruhan.
Kok bisa semut sekarang seperti gajah lebih kelihatan, lha wong gajahnya sekarang banyak nginjek kesana kemari dan merusak kebon tetangga kok.
Senin, Juni 30, 2008 pukul 2:23 pm
Ok sudahkan dibalas lewat email juga ?
Senin, Juli 21, 2008 pukul 9:33 am
“Gema ripah low jinawe, murah pangan murah papan”. Saya baru tahu itu cuma mimpi doang. Otak kita telah dimanipulasi oleh pemimpin-pemimpin kita -yang kebetulan itu-itu dan begitu-begitu juga. Bosan aku!
Saya punya pisang yang tumbuh di pekarangan saya. orang lain tidak punya pisang dan ingin pisang saya. Ternyata saya tidak bisa serta merta memakan pisang saya yang jelasada di tanah-tanah saya dan menjadi kekayaan saya. aneh sekali pemimpin kita itu. mereka melarang memakan apa yang kita punya. kekayaan kita tidak berarti apa-apa bagi kesejahteraan kita.
Lihat tahun depan, anda tidak akan mendapatkan legitimasi dari saya, rakyat Indonesia. wong cilik. Biar saya golput aja (golongan putih), ya seperti kemaren-kemarin. Saya bangga menjadi golput sekarang. Kalo anda memilih pemimpin yang begitu-begitu juga berarti anda bukan golongan putih. anda Golongan hitam artinya. anda bangga menjadi golhit? golongan yang memilih pemimpin hitam, yang mejual asset negara ini dan mencekik rakyatnya sendiri.
Menangislah ibu pertiwi!!!
Minggu, Oktober 5, 2008 pukul 1:11 pm
Oh…RI…RI dimana2 bobrok, akhirnya semua percaya pada Bangsa Asing. RI sendiri menelantarkan rakyatnya, sedih…sedih. Kasus Pasuruan…menyedihkan…dirimu Indonesia.
Minggu, Oktober 5, 2008 pukul 6:05 pm
trmksh diingatkn ok kita bngun
kmbali nation and charcter building
pasca orde baru kita mengalami kekalahan yang keduakali
oleh sebab diri kita dan oleh sebab kelemahan kita menghadapi bangsa asing
betul harus diakui kbodohan itu
neoliberalisme yang merambah sektor publik yang sgt strategis
membuat kita menjerit semua
bahaya kemiskinan dan kelaparan yang akan terjadi
yang harus kita lakukan adalah
revolusi sbgai sebuah pemikiran
nasionalisasi sebuah cara
profesionalisme sebuah kerja