Syekh Nawawi Al Bantani

PELOPOR GERAKAN INTELEKTUAL ISLAM NUSANTARA

Oleh: Martin Muntadhim S.M.

Kiai Nawawi Banten(1230-1314 H/1813-1897 M) alias Syaikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani Asy-Syafi’I adalah satu dari tiga ulama Indonesia yang mengajar di Masjid Al-Haram di Makkah Al-Mukarramah pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dua yang lain ialah muridnya, Ahmad Khatib MInangkabau, dan Kiai Mahfudz Termas (wafat 1919-20 M).

Namanya yang lengkap ialah Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani. Ia dilahirkan di Tanara, serang, Banten, pada tahun 1230 H/ 1813 M. Ayahnya seorang tokoh yang agama yang sangat disegani. Ia masih punya hubungan nasab dengan Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Istrinya yang pertama bernama Nasimah, juga lahir di Tanara. Darinya, Kiai Nawawi dikaruniai tiga putri, Nafisah, Maryam, dan Rubi’ah. Istrinya yang kedua, Hamdanah, memberinya satu putri: Zuhrah. Konon, Hamdanah yang baru berusia berlasan tahun dinikahi sang kiai pada saat usianya kian mendekati seabad. Pada usia 15 tahun, Nawawi muda pergi belajar ke Tanah Suci Makkah, karena saat itu Indonesia –yang namanya masih Hindia Belanda- dijajah oleh Belanda, yang membatasi kegiatan pendidikan di Nusantara. Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Indonesia untuk menyalurkan ilmunya kepada masyarakat.

Tak lama ia mengajar, hanya tiga tahun, karena kondisi Nusantara masih sama, di bawah penjajahan oleh Belanda, yang membuat ia tidak bebas bergiat. Iapun kembali ke Makkah dan mengamalkan ilmunya di sana, terutama kepada orang Indonesia yang belajar di sana. Banyak sumber menyatakan Kiai Nawawi wafat di Makkah dan dimakamkan di Ma’la pada 1314 H/ 1897 M, namun menurut Al-A’lam dan Mu’jam Mu’allim, ia wafat pada 1316 H/ 1898 M.

PENGGERAK MILITANSI MUSLIM
Meski pandangannya terhadap perempuan masih terlalu ortodoks dan sebagaimana lazimnya permikiran tradisional Islam, masih menganggapnya sebagai objek, jejak Kiai Nawawi, baik melalui murid dan pengikutnya maupun melalui kitabnya, yang masih berpengaruh dan dipakai di pesantren hingga kini, benar-benar pantas menempatkannya sebagai nenek moyang gerakan intelektual Islam di Nusantara. Bahkan, sangat boleh jadi, ia merupakan bibit penggerak (King Maker) militansi muslim terhadap Belanda penjajah.

Pada masanya, saat perjalanan haji mulai berfungsi sebagai pemersatu Nusantara dan perangsang antikolonialisme, ketiga ulama tersebut sebagai bagain dari masyarakat “Jawah mukim” punya peran penting sebagai perantara antara orang Nusantara dan gerakan agama serta politik di bagian dunia Islam yang lain. Ketiganya mengilhami gerakan agama di Indonesia dan mendidik banyak ulama yang kemudian berperan penting di tanah air.

Sebagai pengarang yang paling produktif, Kiai Nawawai Banten punya pengaruh besar di dikalangan sesama orang Nusantara dan generasi berikutnya melalui pengikut dan tulisannya. Tak kurang dari orientalis Dr. C. Snouck Hurgronje memujinya sebagai orang Indonesia yang paling alim dan rendah hati. Ia menerbitkan lebih dari 38 karya. Ada sumber yang mengatakan ia menulis lebih dari 100 kitab.

PENULIS MULTI DIMENSI

Kitab tafsirnya, Al-Tafsir Al-Munir li Ma’alim al-Tanzil sangat terkenal. Ia menulis kitab dalam hampir setiap disiplin ilmu yang dipelajari di pesantren. Berbeda dari pengarang Indonesia sebelumnya, ia menulis dalam bahasa Arab. Beberapa karyanya merupakan syarah (komentar) atas kitab yang telah digunakan di pesantren serta menjelaskan, melengkapi, dan terkadang mengkoreksi matan (kitab asli) yang dikomentari.

Sejumlah syarah-nya benar-benar menggantikan matan asli dalam kurikulum pesantren. Tidak kurang dari 22 karyanya (ia menulis paling sedikit dua kali jumlah itu) masih beredar dan 11 kitabnya yang paling banyak digunakan di pesantren. Kiai Nawawi Banten berdiri pada titik peralihan antara dua periode dalam tradisi pesantren. Ia memperkenalkan dan menafsirkan kembali warisan intelektualnya dan memperkayanya dengan menulis karya baru berdasarkan kitab yang belum dikenal di Indonesia pada zamannya. Semua kyai zaman sekarang menganggapnya sebagai nenek moyang intelektual mereka.

Bahkan, Ahmad Khatib Minangkabau, bapak reormasi Islam Indonesia, pun termasuk siswanya. Muridnya yang lain antara lain, K.H. Hasyim Asy-ari, K.H. Khalil Bangkalan, K.H. Raden Asnawi, dan K.H. Tubagus Asnawi.

DARI AKIDAH HINGGA RIWAYAT HADITS


Kitabnya, Qathr al-Ghaits, merupakan syarah dari kitab akidah terkenal, Ushul 6 Bis, karya Abu Laits al-Samarqandi, yag di Jawa lebih dikenla sebagai Asmaraqandi. Bersama karya Ahmad Subki Pekalongan, Fath al-Mughits, yang merupakan terjemahan Jawa Ushul 6 Bis, Qathr al-Ghaits banyak dipakai dan menjadikan Ushul 6 Bis lebih terkenal.

Ushul 6 Bis ialah karya tentang ushuluddin yang terdiri atas enam bab yang masing-masing dibuka dengan kata bismillah. Pada abad ke-19, Ushul 6 Bis merupakan kitab akidah pertama yang dipelajari di pesantren tingkat rendah Indonesia. Dua kitab lain yang diajarkan di tingkat yang sama ialah kitab fiqh at-Taqrib fi al-Fiqh karya Abu Syuja’ al-Isfahani dan Bidayah al-Hidayah, ringkasan Ihya karya al-Ghazali.

Kitab Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawi al-Bantani, Madarij al-Su’ud Ila Ikhtisah al-Burud, yang berbahasa Arab dalam berbagai terbitan merupakan adaptasi Indonesia kitab karya Ja’far bin Hasan al-Barzinji tentang Maulid an-Nabi (‘Iqd al-Jawahir).

Karya acuan yang paling penting ialah Minhaj at-Thalibin karya Nawawi dan komentarnya atas karya Khatib Syarbini, Mughni al-Muhtaj. Minhaj yang menjadi dasar utama semua teks juga dianggap sebagai sumber riil otoritas.

Teks dasar dalam bidang akidah ialah Umm Al-Barahin (disebut juga Al-Durrah) karya Abu’Abdullah M. bin Yusuf al-Sanusi (wafat 895 H/ 1490 M). Syarah yang lebih mendalam, yang dikenal sebagai as-Sanusi, ditulis oleh pengarangnya sendiri. Karya lain yang sebagain didasarkan atas As-Sanusi ialah Kifayah al-‘Awwam karya Muhammad bin Muhammadal-Fadhdhali (wafat 1236 H/ 1821 M) yang sangat popular di Indonesia. Kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dalam Mac Donald1903, halaman 315-351.

Murid Fadhali, Ibrahim Bajuri (wafat 1277 H/1861 M) menulis syarah-nya, Taqiq al-Maqam ‘Ala Kifayah al’Awwam, yang dicetak bersama Kifayah dalam edisi Indonesia. Syarah ini di-hasyiyah-kan oleh nawawi banten dalam karya yang banyak dibaca orang, Tijan ad-Durari.

DARI ANAK MUDA HINGGA ADAB


Kitab singkat berbentuk sajak bagi mereka yang berusia belia dan baru mengerti bahasa Arab, ‘Aqidah al-Awwam, ditulis oleh Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Makki yang giat kira-kira 1864. Nawawi Banten menulis syarah yang terkenal atasnya, Nur Azh-Zhalam.

Nasha’ih al-‘Ibad juga merupakan karya lain Nawawi Banten. Kitab ini merupakan syarah atas karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, an-Nabahah ‘ala Isti’dad. Kitab ini memusatkan pembahasan atas adab berperilaku dan seiring dijadikan karya pengantar mengenal akhlak bagi santri yang lebih muda.

Nawawi juga menulis syarah berbahasa Arab atas Bidayah al-Hidayah karya Abu Hamid al-Ghazali dengan judul Maraqi al-‘Ubudiyah yang lebih popular, jika dinilai dari jumlah edisinya yang berbeda-beda yang masih dapat ditemukan hingga sekarang. ‘Uqd al-Lujain fi Huquqf az-Zaujain ialah karya Nawawi tentang hak dan kewajiban istri. Ini adalah materi pelajaran wajib bagi santri putri di banyak pesantren. Dua terjemahan dan syarah-nya dalam bahasa Jawa beredar, Hidayah al-‘Arisin oleh Abu Muhammad Hasanuddin dari Pekalongan dan Su’ud al-Kaumain oleh Sibt al-Utsmani Ahdari al-Jangalani al-Qudusi.

TOKOH SUFI QADIRIYAH

Kiai Nawawi juga dicatat sebagai tokoh sufi yang beraliran Qadiriyah, yang didasarkan pada ajaran Syaikh Abdul-Qadir al-Jailani (wafat 561 H/ 1166M). sayang, hingga riwayat ini rampung ditulis, penulis belum mendapatkan bahan rujukan yang memuaskan tentang Kiai Nawawi Banten sebagai pengikut tarekat Qadiriyah ataukah tarekat gabungan Qadiriyah wa Naqshabandiyah.

Padahal, pembacaan sejak lama kitab Manaqib Abdul Qadir pada kesempatan tertentu merupakan indikasi kuatnya tarekat ini di Banten. Bahkan, Hikayah Syeh, terjemahan salah satu versi Manaqib, Khulashah al-Mafakhir fi Ikhtishar Manaqib al-Syaikh ‘Abd al-Qadir karangan ‘Afifuddin al-Yafi’I (wafat 1367M), sangat boleh jadi dikerjakan di Banten pada abad ke-17, mengingat gaya bahasanya yang sangat kuno. Lebih dari itu, pada pertengahan abad ke-18, Sultan Banten ‘Arif Zainul ‘Asyiqin, dalam segel resminya menggelari diri al-Qadiri.

Seabad kemudian, mukminin dari Kalimantan di Makkah, Ahmad Khatib Sambas (wafat 1878), mengajarkan tarekat Qadiriyah yang digabungkan dengan Naqshabandiyah. Kedudukannya sebagai pemimpin tarekat digantikan oleh Syaikh Abdul Karim Banten yang juga bermukim di Makkah. Di tangannya, tarekat gabungan ini berkembang pesat di Banten dan mempengaruhi meletusnya Geger Cilegon pada 1888 dan amalannya melahirkan debus.

Begitulah, Syeikh Nawawi bin ‘Umar al-Bantani yang hidup kira-kira satu abad setelah ‘Abd as-Samad al-Falimbani disebut dalam isnad kitab tasawuf yang diterbitkan oleh ahli isnad kitab kuning Syekh Yasin Padang (Muhammad Yasin bin Muhammad ‘Isa al-Fadani) sebagai mata rantai setelah ‘Abd as-Samad.

Kiai Nawawi yang sangat produktif itu juga menulis kitab syarah, Salalim al-Fudhala’, atas teks pelajaran tasawuf praktis Hidayah al-Adzkiya’ (Ila Thariq al-Auliya’) karya Zain ad-Din al-Malibari yang ditulis dalam untaian sajak pada 914 H/ 1508-09 M. kitab ini popular di Jawa, misalnya disebutkan dalam Serat Centhini. Salalim dicetak di tepi Kifayah al-Ashfiya’ karya Sayyid Bakri bin M. Syaththa’ ad-Dimyati.

PENYUMBANG BESAR ILMU FIQH


Kiai Nawawi termasuk ulama tradisional besar yang telah memberikan sumbangan sangat penting bagi perkembangan ilmu fiqh di Indonesia. Mereka memperkenalkan dan menjelaskan , melalui syarah yang mereka tulis, berbagai karya fiqh penting dan mereka mendidik generasi ulama yang menguasai dan memberikan perhatian kepada fiqh.

Ia menulis kitab fiqh yang digunakan secara luas, Nihayat al-Zain. Kitab ini merupakan syarah kitab Qurrat al-‘Ain, yang ditulis oleh ulama India Selatan abad ke-16, Zain ad-Din al-Malibari (w. 975 M). ulama India ini adalah murid Ibnu Hajar al-haitami (wafat 973 M), penulis Tuhfah al-Muhtaj, tetapi Qurrat dan syarah yag belakangan ditulis al-Malibari sendiri tidak didasarkan pada Tuhfah.

Qurrat al-‘Ain belakangan dikomentari dan ditulis kembali oleh pengarangnya sendiri menjadi Fath al-Muin. Dua orang yang sezaman dengan Kiai Nawawi Banten di Makkah tapi lebih muda usianya menulis hasyiyah (catatan) atas Fath al-Mu’in. Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha al-Dimyathi menulis empat jilid I’aanah at-Thalibbin yang berisikan catatan pengarang dan sejumlah fatwa mufti Syafi’I di Makkah saat itu, Ahmad bin Zaini Dahlan. Inilah kitab yang popular sebagai rujukan utama.

Kiai Nawawi Banten juga menulis dalam bahasa Arab Kasyifah as-Saja’, syarah atas dua karya lain yang juga penting dalam ilmu fiqh. Yang satu teks pengantar Sultan at-Taufiq yang ditulis oleh ‘Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’lawi (wafat 1272 H/ 1855 M). yang lain ialah Safinah an-Najah ditulis oleh Salim bin Abdullah bin Samir, ulama Hadrami yang tinggal di Batavia (kini: Jakarta) pada pertengahan abad ke-19.

Kitab daras (text book) ar-Riyadh alBadi’ah fi Ushul ad-Din wa Ba’dh Furu’ asy-Syari’ah yang membahas butir pilihan ajaran dan kewajiban agama diperkenalkan oleh Kyai Nawawi Banten pada kaum muslimin Indonesia. Tak banyak diketahui tentang pengarangnya, Muhammad Hasbullah. Barangkali ia sezaman dengan atau sedikit lebih tua dari Kiai Nawawi banten. Ia terutama dikenal karena syarah Nawawi, Tsamar al-Yani’ah. Karyanya hanya dicetak di pinggirnya.

Sullam al-Munajat merupakan syarah Nawawi atas pedoman ibadah Safinah ash-Shalah karangan Abdullah bin ‘Umar al-Hadrami, sedangkan Tausyih Ibn Qasim merupakan komentarnya atas Fath al-Qarib. Walau bagaimanapun, masih banyak yang belum kita ketahui tentang Kiai Nawawi Banten.

Artikle ini pernah dimuat di Banten Raya Post
Selasa 9 Oktober 2007

REFERENSI:

1. Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat –Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, penerbit Mizan, Bandung, cetakan kedua, Mei 1995.

2. Mimi Jamilah, Imam Nawawi Ulama Besar dari Banten, dalam rubric Khazanah Majalah Mimbar Ulama No. 31/XXV.

3. C. Snouck Hurgronje, Mekka, Bd. II: Aus dem Heutigen Leben, Martinus Nijhoff, Den Haag, 1889.

4. L.W.C. van den Berg, Het Mohammedaansche Godsdienstonderwijs op Java en Madoera en de Daarbij Gebruikte Arabixche Boeken, dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 31, 1886.

5. H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Mutiara, Jakarta, cetakan keuda. 1979.

6. Al-Fadani, al-‘Iqd al-Farid min Jawahir al-Asamid, Dar as-Saqqaf, Surabaya, 1401 H.

About these ads

17 responses

  1. ….kpengen tw asal mausul sejarah syehk Nawawi albantani ,,boleh kh Gan????

    Jumat, September 7, 2012 pukul 11:52 pm

  2. tanmalaka

    Subhanallah..beruntung saya tinggal di banten :)

    Kamis, April 15, 2010 pukul 1:25 pm

  3. Terima kasih Anda mengutip tulisan lama saya itu. Sebenarnya tulisan ini pertama saya rilis dalam majalah “Ar-Risalah” yang diterbitkan oleh MUI Banten. Sayangnya, “Banten Raya Post” tidak pernah memberi tahu saya ketika mengutip tulisan ini. Padahal, saya cuma in gin punya klipingnya. Adakah teman yang bisa mengirimi kliping tulisan saya yang dimuat “Banten Raya Post” tersebut, meskipun hanya dalam bentuk .pdf? Salam, MMSM, Bekasi Jaya.

    Selasa, November 24, 2009 pukul 1:04 am

  4. WaH ManTaP SeKaLi CeRiTa’a………………
    SaYa InGin CeRiTa InI BiSa LeBiH MaJu LaH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    JanGaN SaMpAi MunDuR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    “OKE”

    Senin, November 23, 2009 pukul 8:15 pm

  5. edy hafiez

    askum wr b
    salam Asy ariyah wa almaturidiyah.

    syekh Nawawi Al bantani adalah Gurunya para kyai Di Indonesia.

    http://www.invasi.blogspot.com

    Senin, Juni 8, 2009 pukul 1:02 am

  6. Samsul Munir Amin

    Tafadhal akhi…

    Minggu, Mei 24, 2009 pukul 9:02 pm

  7. ikhsanu

    Harap dibedakan antara Syeikh Nawawi Al Bantani dengan Imam Nawawi pengarang kitab Riyadushshalihin… OK

    Kamis, Mei 14, 2009 pukul 1:21 pm

  8. Thank atas infonya, mohon izin untuk saya forward ke FB biar tambah manfaat untuk yang lain

    Selasa, Mei 12, 2009 pukul 8:50 am

  9. Samsul Munir Amin

    Untuklebi lengkap mengetahui Tentang Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi, baca buku karya Samsul Munir Amin, SAYYID ULAMA HIJAZ Biografi Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi, tebitan Pustaka Pesanren, Yogyakarta, 2009.

    Sabtu, Maret 14, 2009 pukul 9:49 am

  10. Saya memperolehi manuskrip tariqah al-Akmaliyah seperti berikut [mohon dihuraikan ] :

    1. Kiyahi Muhammad Ali (Kiyahi Ngali) Mataram membuka pondok di Sijangkang Klang Selangor Malaysia lahir 1868/1858/1853/1833 (usia 90-100) wafat 1958. Di sini juga terdapat nama Kiyahi Haji Muhammad Soleh al-Bantani kemduian menerima dari
    2. Shaikh Muhammad Nawawi Banten 1230H/1815M @ 1316H/1898M menerima dari
    3. Shaikh Hidayatullah menerima dari
    4. Shaikh Abdul Muhyi Betawi menerima dari
    5. Shaikh Maulana Rumi Al-Arabi menerima dari
    6. Shaikh Madfuri Al-Arabi menerima dari
    7. Shaikh Maulana Maghribi, Magrib menerima dari
    8. Shaikh Tanjul Arifin (Tajul ‘Arifin) Baghdadi menerima dari
    9. Shaikh Junaid, Baghdadi menerima dari
    10. Shaikh Abdul Qadir Jailani, Baghdadi menerima dari
    11. Nabi Khidir menerima dari
    12. Nabi kita Muhammad S.a.w.

    Sabtu, Oktober 25, 2008 pukul 5:49 pm

  11. Cendikiawan muslim yang terkenal dijamannya, murid dari Syekh Ahmad Khatib Sambas dan bnyk guru lainnya.

    Pemikiran Syekh Nawawi Al Bantani dapat dilihat

    http://www.muslimdelft.nl/titian-ilmu/biografi/syaikh-nawawi-al-bantani-al-jawi-1-guru-para-ulama-indonesia

    http://www.muslimdelft.nl/titian-ilmu/biografi/syaikh-nawawi-al-bantani-al-jawi-2-karya-dan-karomahnya

    http://www.muslimdelft.nl/titian-ilmu/biografi/syaikh-nawawi-al-bantani-al-jawi-3-al-ghazali-modern-bagian-1

    http://www.muslimdelft.nl/titian-ilmu/biografi/syaikh-nawawi-al-bantani-al-jawi-4-tammat-al-ghazali-modern-bagian-2

    Al-Bantani yang benar ! Ok
    Manakib, barzanji memiliki arti membaca sejarah hidup atau riwayat orang-orang soleh berisi syair puji-pujian dan doa

    baca juga sumber

    Barzanji

    http://buntetpesantren.org/index.php?option=com_content&task=view&id=49&Itemid=45

    http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8725

    http://ahlussunahwaljamaah.wordpress.com/manakib/

    http://www.cybermq.com/index.php?forum/lihat_isi/3/24/3087

    Senin, Oktober 13, 2008 pukul 2:09 am

  12. ada jual manaqib syeikh nawawi sebentun sebenar al-banteni atau al-bantani.

    Minggu, Oktober 12, 2008 pukul 3:30 pm

  13. mashuda

    membahas ulama yang hidup di era 19 memang sangat menarik untuk dikaji akan tetapi yang jadi ganjalan saya dalam memahami pemikirannya saya masih bingung, kiranya bisa dalam makalah ini ditambah karakteristik pemikiran imam nawawi ? trimah ksh. Wss

    Kamis, Mei 22, 2008 pukul 1:06 pm

  14. mashuda

    membahas ulam yang hidup di era 19 memang sangat menarik untuk dikaji akan tetapi yang jadi ganjalan saya dalam memahami pemikirannya saya masih bingung, kiranya bisa dalam makalah ini ditambah karakteristik pemikiran imam nawawi ? trimah ksh. Wss

    Kamis, Mei 22, 2008 pukul 1:05 pm

  15. Mimi

    Mengapa suku Baduy sangat menutup diri dengan kepercayaan sunda wiwitannya ? Apakah bagi Baduy perubahan dalam multi dimesi sangat fragile ?

    Senin, April 21, 2008 pukul 1:48 am

  16. rahmat el-chiomasi

    weeeeeeeeeeh kang saya ucapin makasih banget atas artikel nawawi nya, Qt tmn2 di Mesir ktka mngkaji tentang syekh al’alamah Nawawi ak-bantani mrs kkrngan maklumat, karna msh jrng yng mmbhas sang tokoh brkut krynya. slm kenal, rahmat Jaliel el-chiomashie.

    Sabtu, Maret 29, 2008 pukul 11:32 am

  17. kami sangat salut dg kitab2 karangan dari imam nawawi,kalau ada mohon kiriman foto beliau/ gambar2

    Sabtu, Maret 29, 2008 pukul 1:50 am

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 198 pengikut lainnya.