Mutiara Banten

MAKALAH ANTROPOLOGI

RUDAT, MUTIARA BUDAYA YANG TERSEMBUNYI

Disusun Oleh :

  1. Ade Yusnita,
  2. Izzati Ainun Khairina
  3. Ratu Yulya Chaerani
  4. Siti Irma
  5. Tritama Chaerani

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah S.W.T karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang seni tradisional Rudat Banten. Makalah ini mengupas kesenian tradisional Rudat di Banten yang hampir terlupakan. Dalam pembuatan makalah ini kami mulai memahami bahwa menggali kembali mutiara budaya khas Banten akan membuat kita merasa kagum terhadap warisan-warisan budaya yang ada di sekitar kita.Kami berharap melalui makalah ini kami dapat memberikan sumbangsih berupa pengetahuan mengenai seni tradisional Banten yang mulai terlupakan. Namun, kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat keterbatasan. Untuk itu kami memohon maaf atas segala keterbatasan kami dan mengharapkan kritik yang membangun dari pembaca.

Dalam penyusunan makalah ini kami mendapat banyak bantuan serta sumbangan gagasan dari berbagai pihak. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Teguh Iman Prasetya selaku dosen mata pelajaran pengantar Antropologi, bapak M. Iwan selaku budayawan, Bapak Ubay, Bapak Benny Kusnandar, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Serang, warga Desa Sukalila dan semua pihak yang telah bersedia membimbing kami menyelesaikan makalah ini.


BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Banten merupakan provinsi yang memiliki keanekaragaman budaya, khususnya dalam hal kesenian tradisional yang merupakan warisan nenek moyang yang telah diperkenalkan sejak dahulu secara turun-temurun.Keberadaan warisan budaya khas banten ini sangat berarti bagi masyarakatnya, sebab melalui hal ini masyarakat Banten dapat menunjukkan karakteristik yang membedakannya dengan masyarakat dari daerah lain. Namun sangat disayangkan, dewasa ini Banten seakan-akan hanya memiliki satu jenis kesenian tradisional yang menjadi representasi dari masyarakat Banten, yaitu Debus.padahal, Banten memiliki kesenian tradisional lain yan tidak kalah menarik dengan Debus seperti Rudat, Terbang Gede, Patingtung, Wayang Garing, Ubrug, Yalil, Buaya Putih, dan kesenian tradisional Banten lainnya yang belum tergali secara menyeluruh.

Pada dasarnya, apabila kesenian tredisional tersebut dikaji lebih lanjut dan dikembangkan denagn maksimal akan memberikan prospek yang besar bagi kemajuan Banten khusnya dalam bidang pariwisata di Banten. Sayangnya, realita yang terjadi sangat bertolak belakang. Keberadaan kesenian tradisional lainnya khususnya Rudat tidak sepopuler Debus. Seni rudat hanya ditampilkan pada acara-acara perkawinan dan beberapa perhelatan keagamaan serta pada beberapa seremonial seperti gebyar muharam, pawai taaruf, dan arak-arakan pernikahan.Seni Rudat kini menjadi salah satu dari kesenian tradisional yang namanya kian memudar seiring perkembangan zaman.Atas dasar tersebut kami tertarik untuk membuat makalah tentang kesenian Rudat untuk dapat memberikan pengetahuan mengenai seni Rudat dan mempertahankan eksistensi Rudat kepada setiap pembaca.

1.2 Tujuan Penulisan

v Menambah pengetahuan mengenai seni rudat v Memahami seluk beluk prosesi rudat v Mempertahankan eksistensi rudat

1.3 Rumusan Masalah

v Apakah seni tradisional rudat itu?v Bagaimana sejarah seni tradisional rudat?v Apakah alat dan pakaian yang digunakan pada kesenian rudat?v Bagaimana prosesi kesenian rudat?v Bagaimana perkembangan seni rudat?

1.4 Metode Penelitian

Metode yang kami gunakan dalam penyusunan makalah kami adalah wawancara dengan narasumber Bapak M.Iwan selaku budayawan, Bapak Ubay selaku penerbang (pemain perkusi) dalam kelompok Rudat di Desa Sukalila Banten dan Bapak Benny Kusnandar selaku staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Serang.

1.5 Sistematika Penulisan

Bab 1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan Penulisan

1.3 Perumusan Masalah

1.4 Metode Penelitian

1.5 Sistematika Penulisan

Bab II Isi

2.1 Sejarah kesenian rudat

2.2 Alat dan pakaian yang digunakan dalam kesenian rudat

2.3 Prosesi kesenian rudat

2.4 Perkembangan seni rudat

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

BAB II ISI

2.1 Sejarah Kesenian Rudat

Rudat adalah kesenian tradisional khas Banten yang merupakan perpaduan unsur tari, syair shalawat, dan olah kanuragan yang berpadu dengan tabuhan terbang dan tepuk tangan. Rudat terdiri dari sejumlah musik perkusi yang dimainkan oleh setidaknya delapan orang penerbang (pemain musik ) yang mengiringi tujuh hingga dua belas penari.Menurut beberapa tokoh Rudat, nama Rudat diambil dari nama alat yang dimainkan dalam kesenian ini. Alat musik tersebut berbentuk bundar yang dimainkan dengan cara dipukul. Seni Rudat mulai ada dan berkembang pada masa pemerintahan Sinuhun Kesultanan Banten II, Pangeran Surosowan Panembahan Pakalangan Gede Maulana Yusuf (1570-1580 M).

Tidak banyak yang mengetahui siapa yang menciptakan kesenian ini, karena sekarang sesepuh yang mengetahui seluk-beluk Rudat sangat sedikit bahkan sebagian sudah meninggal. Naskah yag berisi sejarah Rudat dan nilai-nilai filosofis tentang rudat pun hanya dimiliki oleh satu sampai dua orang yang salah satunya merupakan anak dari mendiang pemilik naskah yang menjadi sesepuh disana.

Meskipun tidak banyak yang mengetahui pencipta kesenian ini, warga Sukalila meyakini bahwa Rudat sebetulnya jurus silat yang dikembangkan menjadi tarian. Langkah-langkahnya merupakan langkah-langkah silat yang dikembangkan menjadi tarian dan diiringi musik dan shalawat.Seni tradisional Banten ini menjadi rangkaiaan utama tatkala Kesultanan Banten mengadakan hajat besar atau dalam acara penyambutan tamu kehormatan yang berasal dari mancanegara.

Pasang surut Seni Rudat sangat erat kaitannya dengan sejarah Kesultanan Banten. Saat kedatangan Belanda, Seni Rudat malah terkubur. Pada zaman Sinuhun Kasultanan Banten IV Pangeran  Panembahan Maulana Abdulmufakir Mahmudin Abdul Kadir (1596-1651 M) seni tradisional khas Banten ini benar-benar dilarang Belanda karena dicurigai sebagai ajang untuk mengumpulkan masa untuk berlatih bela diri dan menghimpun kekuatan untuk menentang Belanda.

Syeh Nawawi kemudian membangkitkan kembali Seni Rudat lewat muridnya yang asli dari Sukalila yang bernama Kyai Sulaiman. Sejak itu Rudat dijadikan media penyebar ajaran agama Islam. Sampai saat ini seni Rudat diwariskan secara turun-temurun selama lima generasi di desa Sukalila.

Sampai sekarang desa Sukalila merupakan induk dari beberapa kelompok Seni Rudat. Di sinilah Seni Rudat asli Banten berakar dengan kuat. Warga desa ini menjadi satu dengan tradisional Rudat. Mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia gemar memainkan kesenian tradisional khas Banten ini.

Kesenian ini sudah ada sejak saya belum lahir, sampai sekarang Rudat masih terus berkembang dan memiliki prospek yang cukup menjanjikan sehingga saya terus berkecimpung dalam kesenian ini selama kurang lebih lima belas tahun. Sampai sekarang warga desa ini tetap antusias berlatih dan menampilkan seni rudat di berbagai event. Baru-baru ini kami memperkenalkan Rudat di JHCC bersama Ully Sigar Rusady.” ungkap bapak Ubay.

2.2 Alat dan Pakaian yang Digunakan dalam Seni Rudat

Alat musik yang digunkan dalam seni rudat adalah terbang (rebana) yang terdiri dari beberapa jenis alat musik, diantaranya:v Dua buah Gedong Bibitv Mapatv Teluv Kemcangv Kempul Kembarv Nganakv Kempul yaitu alat musik yang digunakan dalam seni rudat minimal berjumlah delapan buah, apabila jumlah alat musik yang di gunakan kurang dari delapan musiknya akan terdengar timpang. Jika alat musik yang digunakan lebih dari delapan musik akan tetap terdengar harmonis.

Pakaian yang digunakan dalam seni rudat terdiri dari pakaian penerbang (pemain musik perkusi), Penari pria, dan Penari wanita.Penari Pria akan mengenakan : Busana berwarna kuning dikombinasikan dengan hijau, ikat pinggang, dan ikat kepala kuning bermotif sunda/kopiah putih.Penari wanita akan mengenakan: Busana berwarna hijau muda dilengkapi ikat pinggang dan ikat kepala yang sama dengan penari pria.Penerbang akan mengenakan: Busana lengkap berwarna biru-kuning dengan ikat pinggang dan ikat kepala yang sama.

2.3 Prosesi Kesenian Rudat

Dalam pementasan seni rudat yang paling menonjol adalah perpaduan unsur tari, gerak kanuragan dan serta shalawat. Saat pementasan diawali dengan lantunan shalawat As-Salam yang mengiringi masuknya penari. Selanjutnya penari diiringi musik dan lantunan syair rudat yang diyakini merupakan peninggalan ulama Banten saat melakukan penyebaran agama Islam.

Syair yang biasa digunakan untuk mengiringi penari Rudat di antaranya adalah Thalab-Naba, Khasbiyun,Ya khayyu ya Qayyum. Syair utama dalam kesenian rudat adalah Shalawat As-Salam, Khasbiyyun, Ya Khayyu Ya Qayyum, dan Shalawat Penutup yang akan mengiringi penari rudat keluar. Apabila diresapi dengan mendalam, syair rudat memiliki makna batin yang kental. Syair Ya Khayyu ya Qayyum, La khaula wa laa quwwata illa billahi aliyyil adzim misalnya, syair ini memiliki arti bahwa tiada daya dan upaya tanpa hidayah dan izin Allah.

Syair rudat mengisyaratkan munajat dan kepasrahan akan keterbatasan Manusia. Gerakan tariannya juga demikian, tiap tembang yang dilantunkan akan memiliki gerakan yang berbeda. Tidak ada prosesi khusus yang dilakukan sebelum mementaskan Rudat, tidak seperti Debus yang harus mengadakan ritual-ritual tertentu. Beberapa hal yang harus dimiliki oleh pemain rudat adalah tekun berlatih, ketulusan hati dan kebersihan batin . Selanjutnya secara khusus semua penerbang (pemusik), penari, dan pelantun tembang harus di ijazah oleh sesepuhnya.

2.4 Perkembangan Kesenian Rudat

Pada awalnya Seni Rudat hanya perpaduan dari pencak silat dengan shalawat yang diiringi riuhnya tepukan tangan. Semua personil yang menampilkan Seni Rudat terdiri dari laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam. Seni Rudat awalnya merupakan sarana penyebaran agama Islam. Suatu kesenian akan berkembang sesuai dengan lingkungannya. Begitu pula Seni Rudat. Sebenarnya di berbagai daerah Indonesia terdapat seni yang serupa dengan Rudat tetapi berbeda nama seperti di Aceh, Cirebon, Indramayu, dan Lombok. Alat rudat sendiri berasal dari Jawa yang diproduksi oleh Bumi Ayu.

Dalam perkembangnnya Seni Rudat telah menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa melupakan aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat Banten. Saat ini rudat telah berkembang baik dari suguhan pementasan, perlengkapan, dan busananya. Dalam pertunjukannya rudat dimainkan secara atraktif yang dikolaborasikan dengan tari-tarian. Pemain rudat tidak hanya didominasi oleh pemain pria saja, wanita juga ikut serta dalam pementasan rudat. Pakaian yang digunakan pun sudah berubah, tidak menggunakan pakaian yang berwarna hitam tetapi menggunakan perpaduan warna yang cerah.Seni rudat terus berkembang secara berkesinambungan. Disetiap kecamatan yang ada di Kabupaten Serang sudah terdapat sanggar Seni Rudat.

Pada umumnya rudat yang terdapat selain di Desa Sukalila tidak menampilkan tari-tarian. Sekarang banyak sekali tarian kreasi yang diciptakan dengan memakai seni rudat,seperti Tarian Kota Serang Bersyukur menggunakan perpaduan Rudat dan Terbang Gede, Gereget Dalail, Geger Wadon Ing Cilegon, Gembrungan katulang Banten,dan lain-lain.Kurangnya popularitas seni rudat terjadi karena kurangnya sosialisasi di daerah. Sosialisasi Seni rudat jarang dilakukan. Kesenian ini hanya dilakukan saat ada perhelatan.

Untuk menjaga eksistensi kesenian tradisional Banten seperti Rudat dan lainnya, Pemerintah Kabupaten Serang, khususnya departemen Kebudayaan dan Pariwisata melaksanakan sembilan program, yaitu:

v Gebyar Muharam

Merupakan festival seni tradisi islam. Pada gebyar muharam seni tradisional Islam ditampilkan dan disosialisasikan kepada masyarakat.

v Pawai Taaruf

Pawai ini diselenggarakan bertepatan dengan lomba MTQ. Pada pawai taaruf semua perkumpulan/sanggar seni menampilkan kesenian tradisional khas Banten.

v Arak-Arakan tradisional. Arak-arakan tradisional menampilkan kesenian tradisional Banten, Rudat termasuk di dalamnya.v Festival Panjang Mulud. Festival Panjang Mulud mirip dengan festival yang diselenggarakan di Yogyakarta. Pada festival ini gunungan tang berisi makanan diarak dengan iring-iringan tradisional khas Banten, contohnya rudat dan terbang gede.

v Pembinaan Guru-Guru Seni SMP-SMAv Semarak Takbirv Obyag Seni merupakan ajang pementasan kesenian tradisional khas Banten.

Pada Obyag Seni semua kesenian tradisional khas Banten ditampilkan dengan  modifikasi dan kolaborasi seni tradisional.Pada dasarnya setiap wilayah di Provinsi Banten telah melakukan spesifikasi terhadap seni tradisional yang akan diunggulkan, diantaranya· Pandeglang dengan Rampak Bedug· Tanggerang dengan Tari Cokek· Cilegon dengan Pantun Bambu· Lebak dengan Doddog lojor

Kesenian rudat berkembang sangat pesat di Serang. Hal ini dapat dilihat dari menjamurnya sanggar-sanggar Seni Rudat, dan modifikasi Seni Rudat. Seni Rudat kini dapat disesuaikan dengan perhelatan yang akan dilaksanakan. waktu tampil, gerakan tarian, dan semua aspeknya biasa diubah selama masih sejalan dengan nilai yang dianut masyarakat Banten.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Rudat adalah kesenian tradisional khas Banten yang merupakan perpaduan unsur tari, syair shalawat, dan olah kanuragan yang berpadu dengan tabuhan terbang dan tepuk tangan. Rudat terdiri dari sejumlah musik perkusi yang dimainkan oleh setidaknya delapan orang penerbang (pemain musik ) yang mengiringi tujuh hingga dua belas penari.Menurut beberapa tokoh rudat, nama Rudat diambil dari nama alat yang dimainkan dalam kesenian ini. Alat musik tersebut berbentuk bundar yang dimainkan dengan cara dipukul.

Pada awalnya seni rudat hanya perpaduan dari pencak silat dengan shalawat yang diiringi riuhnya tepukan tangan. Semua personil yang menampilkan seni rudat terdiri dari laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam. Seni rudat awalnya merupakan sarana penyebaran agama Islam.Saat ini rudat telah berkembang baik dari suguhan pementasan, perlengkapan, dan busananya. Seni Rudat kini dapat disesuaikan dengan perhelatan yang akan dilaksanakan. waktu tampil, gerakan tarian, dan semua aspeknya biasa diubah selama masih sejalan dengan nilai yang dianut masyarakat Banten.Walaupun kesenian Rudat pernah mengalami masa kepunahan, saat ini merupakan masa kebangkitan kembali kesenian Rudat.

3.2 Saran

  • Masyarakat perlu mengenal, dan memahami kesenian rudat.
  • Pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi terhadap kesenian tradisional Banten, khususnya Rudat.
  • Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk menjaga kelestarian seni tradisional Rudat.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………………………. i

Daftar Isi……………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………………

1.1.2 Tujuan Penulisan………………………………………

1.1.3 Rumusan Masalah………………………………………

1.1.4 Metode Penelitian…………………………………………

1.1.5 Sistematika Penulisan……………………………………

BAB II ISI

2.1 Sejarah Kesenian Rudat………..

2.2 Alat dan Pakaian yang Digunakan Dalam Seni Rudat

2.3 Prosesi Kesenian Rudat…………

2.4 Perkembangan Kesenian Rudat

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan……………………… 3.2 Saran…………………

About these ads

13 responses

  1. adhe

    rudat itu singkatan atw pha?

    Kamis, Oktober 22, 2009 pukul 8:23 am

  2. Tritama Chaerani

    Trims tuk smua pihak yg tlah membantu dalam penyusunan makalah tsb.
    Trims bnyak tuk pak teguh telah membimbing kami..
    Trims juga tuk yg sudah comment n memberi saran ats mkalah ini..
    Smoga bmanfaat tuk semua..

    Senin, Juli 6, 2009 pukul 3:18 pm

  3. izzati ainun khairina

    hehehe,,,

    ya ampun makalahnya di pajang disini,,,

    padahal lagi iseng googling nama sendiri.

    Kamis, Juni 4, 2009 pukul 5:38 pm

  4. Ratu Yulya C.

    wah..maklahnya masih ada…jadi gimanaaa….gitu..
    hihi
    iya c…masih novice etnografinya belum lengkap dan gada studi pustaka…krn naskah asli ttg rudat sudah hilang & para tetuanya sudah meninggal…jadi cuma ditelusuri lewat generasi penerusnya

    sekarang kami melanjutkan studi tentang rudat koq,..dalam bentuk film dokumenter….
    bagi anggota sanggar kesenian rudat dan perkumpulan seni rudat yang akan ada pementasan dalam waktu dekat (sebelum 13 april) mohon bantuannya….

    Kamis, April 9, 2009 pukul 6:28 pm

  5. RudatPlayer

    Semoga informasi dari saya ini menambah wawasan tentang rudat di Banten.
    Yang sering kita saksikan sekarang sebenarnya adalah salah satu dari cabang seni rudat yang bernama “teratean”. Sedangkan rudat yang murni memiliki ketukan irama dasar dan nasyid yang berbeda.
    Setidaknya ada 5 (lima) cabang seni rudat di masa lalu, yakni : Rudat (murni), teratean, rentak, picekan, dan kontrengan (gendingan). Masing-masing memiliki ketukan irama dasar yang berbeda.
    Dengan tidak bermaksud “mempertanyakan” sejarah rudat versi Sukalila, namun justru saat ini di tempat tersebut tidak memiliki lagi rudat murni, tetapi teratean itulah yang disebut rudat.
    Jika Anda ingin mengetahui irama “rudat murni”, masih ada satu tempat yang memilikinya, yakni di Kp. Tanggul dekat Pasar Rawu, Kota Serang. Maka Anda akan menemukan perbedaan baik dari irama maupun nuskah/nasyid nya. Sekurang-kurangnya masih ada 3 cabang seni rudat yang masih dikuasai.
    Justru inilah yang harus digali oleh pemerhati dan penggiat seni budaya di Banten.
    Jika Anda tertarik untuk lebih mendalami dan mempelajari rudat Banten baik dari segi sejarah maupun iramanya, hendaklah mencari sumber dari banyak tempat di Banten, sehingga tidak hanya satu versi yang terekspos.
    ingin berkomunikasi lebih lanjut tentang rudat Banten, kirim e-mail ke : asep.wahyuningrat@gmail.com

    Minggu, Maret 29, 2009 pukul 11:04 pm

  6. bagus!! seperti halnya debus, aq merasa sejarah rudat memiliki missing hystory, ada satu masa dimana budaya ini hilang atau di hilangkan faktor tertentu, seperti kolonialisme, so.. bukti otentik untk sebuah data atau arsip sejarah apalagi manuskrip tentu amat sulit dtemukan, atau mungkin tidak ada ya? untk itu cukuplah rasanya makalah ini sebagai suatu kebenaran sejarah, walau hanya dgn wawancara, sampai ada yg seseorang yg mampu menggali lebih dalam lagi, thanks untk makalahnya..

    Senin, Oktober 20, 2008 pukul 3:22 pm

  7. Wah tahun lalu mereka rata-rata memang pada sukses kajian budayanya juga mantep khas kami dlm hal antropologi adlh to be to have menjadi dan memiliki

    Foto-foto ada tapi waktu itu blum ngerti masukinnya ke blog lain kali nanti tak pajang

    Jumat, September 12, 2008 pukul 2:13 pm

  8. Toni

    Ungkapan terima kasih yang sebesar2nya kepada temen-temenku Ade Yusnita,Izzati Ainun Khairina,Ratu Yulya Chaerani,SitiIrma,TritamaChaerani Yang telah menulis MAKALAH ANTROPOLOGI RUDAT,penjelasan panjang lebar dimakalah tersebut sudah sangat lengkap dan bagus juga membanggakan kami sebagai warga desa SUKALILA kel.kagungan kec.serang..Mungkin akan lebih lengkap dan bagus lagi kalo diartikel tersebut dilengkapi dengan Fhoto2 pendukung,oke…trims

    Jumat, September 12, 2008 pukul 2:05 pm

  9. Bagus banget ada artikel kayak gini diinternet!

    Jadi gampang kalo nyari tugas!!!

    Lengkap juga

    Makasih udah bikin artikel ini

    Great!!!

    Rabu, Agustus 13, 2008 pukul 6:35 pm

  10. inainu

    baguuuus . PR saia am tmen tmen ttg tarian banten jadi kebantu

    Rabu, Agustus 6, 2008 pukul 12:23 pm

  11. nniez

    ko gda lngkap alt musiknya

    Sabtu, Mei 24, 2008 pukul 6:16 am

  12. Nama kita sama-sama ada “izzati”nya terus anehnya lagi aq juga punya kesenian rudat loh di pulau kebanggaan aq “Red Hot Chili Island” Lombok maksudnya. Aq juga punya niat ma etnografi and next aq harap kamu & yang lain bisa experience sharing ya….good jobs!

    Jumat, April 18, 2008 pukul 3:56 am

  13. Bagus dan menarik sebagai sebuah karya penelitian budaya, tetapi epistimologinya tidak dijelaskan secara lengkap (pengetahuan itu dari mana berasal;terutama sumber informasi lainnya selain hasil wawancara, mungkin ada analisis dokumen, atau buku, dan naskah lainnya? baca kembali epistimologi), begitupula catatan akhir makalah terutama data pustaka harus disertakan. Sengaja ditampilkan sebagai salah satu representasi dari kelas 1 b kom reguler Fisip Untirta yang mengambil studi didaerah Banten Utara. Cukup sukses

    Senin, Februari 4, 2008 pukul 6:22 pm

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 661 pengikut lainnya.