Refleksi dikampus menjelang Tahun Baru Islam 1 Muharam 1429 Hijriyah hingga larut malam oleh BEM Untirta ternyata lebih menarik. Banyak yang diulas dari peristiwa tahun lalu, tetapi mungkin sudah seringkali dibahas dan tidak aneh lagi bagi kita semua. Yang dibutuhkan sekarang adalah kepala jernih, hati bersih, serta tekad untuk bekerja keras memecahkan masalah, baik didalam maupun diluar kampus, serta membangun Untirta. Dengan silih asah, silih asih, dan silih asuh, semoga peribahasa ini sangat berguna bagi kita semua.
Tahun Baru Islam juga menyiratkan sesuatu yang lain, bahwa refleksi tidak selalu digelar pada musim tutup tahun masehi akhir desember. Pergantian tahun yang jarang diminati banyak orang dengan acara introspeksi, restropeksi, dan refleksi menyikapi keadaan diri kita dan sekitarnya.
Secara filosofi spiritual, Tahun Kabisat, bulan yang beredar mengelilingi bumi jelas berbeda dengan planet bumi yang beredar mengelilingi matahari. Sebuah penghormatan dari alam raya tertinggi tentang keberadaan manusia sebagai mahluk mulia yang diciptakan tuhan. Sungguh sangat mendasar sekali bagi saya sejak dulu.
Perbincangan sangat menarik namun sangat formal, yaitu banyak menyoal tentang keberadaan organisasi kampus, baik kinerja Untirta dan ormaswa, serta fenomena sedikit tentang dunia luar.
Sebagian besar isi dialog tersebut adalah ;
-
Dewan Mahasiswa (Student Government)
-
Kontrak Politik Rektor yang diusung mahasiswa dengan indikator capaian kinerja (proses dan hasil)
-
Pembangunan Untirta kemarin, saat ini, dan dimasa datang.
-
Lanjutan tentang Pilrek, Pildek, Kajur, serta keberadaan kelas NR
-
Fenomena masalah negara diluar kampus (demokrasi, hutang, dan lain sebagainya)
Satu hal yang disadari saat ini adalah justru pada saat terakhir ketika zikir bersama, bahwa demokrasi bukanlah apa-apa dibanding jiwa revolusioner melalui kedekatan kita dengan-Nya. Hablumminallah dan Hablumminnanas. Maaf jika tidak ada yang sepakat. Dekat dengan tuhan biasanya seseorang lebih peka dengan lingkungannya, hatinya lebih dekat dengan kasih sayang dan menjauhi larangan-Nya, serta ikhlas, juga tegas menjalankan prinsip hidup.
Saya mengakui demokrasi bukan segalanya dan belum tentu membawa kita menuju tujuan yang sesungguhnya, apalagi mempersoalkan tentang hakikat kebenaran. Hanya sebuah jalan atau cara saja, tinggal bagaimana itu semua diperbaiki.
Diskusi Terbuka dipandu :
- Teguh Iman Prasetya (Dewan Mahasiswa)
- Widjiyanto (Manajamen Organisasi)
- Eri Teguh Sabhara (Mekanisme Ormaswa)
Ditutup dengan doa dan zikir bersama oleh
Imam Ni’matullah Lc.
Catatan Khusus :
Terimakasih untuk Presma BEM Untirta Suroyo dan kesempatan berbicara yang diberikan PR III Untirta Beni Irawan






































RSS - Posts






