Kembali kumel, dekil, dan gondrong tidak terawat, seperti jaman mahasiswa dimasa lalu. Elang perak yang hilang dan orang hutan yang nekat, tidak pernah merasa tua seperti dalam film Legends of The Fall. Bedanya sekarang dibatasi kesibukan dan kebekuan yang menjenuhkan. Sangat amat jenuh, aku ingin kembali berlari terbang menerobos hutan, ngarai, lembah, danau, dan menikmati kesunyian.Terbang menikmati eksotisme alam dan mandi ditengah danau, dimalam bulan purnama yang indah.
Arsip untuk Januari 4th, 2008
Orang Hutan Kembali
Ditulis oleh Teguh Iman Prasetya di/pada Jumat, Januari 4, 2008
Ditulis dalam Buku Harian | Leave a Comment »
Lelah
Ditulis oleh Teguh Iman Prasetya di/pada Jumat, Januari 4, 2008
Tersita seluruh tenaga dan banyak berfikir untuk rakyat serta kampus lebih dari 3 tahun belakangan ini. Saya kadang iri dan kesal dengan gaya hidup santai, hedonis, juga pragmatis. Cape dan melelahkan, bahkan waktu luang untuk jeda (istirahat) berhenti sebentar menghirup nafas segar dan menikmati hidup dengan tenang.
Tetapi akhir-akhir ini juga karena menunggu sesuatu, kadang membuat malas untuk mengerjakan dan menuntaskan pekerjaan yang masih menunggu. Saya gelisah.Kesibukan lebih banyak lagi malah sudah menanti, segudang ide, pekerjaan baru, mestinya dihadapi dengan tenang dan tidak lagi gelisah. Ada terminal terakhir yang dituju ketika pulang.
Ditulis dalam Buku Harian | 2 Komentar »
Indiana Jones Banten
Ditulis oleh Teguh Iman Prasetya di/pada Jumat, Januari 4, 2008
Saya membayangkan kembalinya Indiana Jones seperti alm. Halwany Michrob didaerah kami. Dari catatan masa lalu dan pengalaman beliau, ternyata loyalitas dan perjuangannya sangat luarbiasa.Banyak sekali yang harus digali dari penemuan dan rekonstruksi peninggalan Sejarah Banten yang tertunda. Situs bekas Kerajaan Hindu-Pajajaran didaerah Sempu (Banten Girang) dan rekonstruksi Kesultanan Banten lama.
Merekonstruksi Kesultanan Banten lama sesuai aslinya jelas tidak mudah, banyak biaya yang harus dikeluarkan. Mungkin hanya dapat terlaksana dengan bantuan dana hibah dari luar negeri atau dari pemerintah pusat.
Saya juga membayangkan romantisme Sejarah Banten akan kembali, sekaligus ajang pariwisata dengan tradisi lama dihidupkan seperti di Kesultanan Cirebon dan Yogyakarta. Tentunya feodalisme religius dengan pemikiran baru yang tercerahkan.
Masjid Agung Banten dan areal wilayah Kesultanan Banten Lama (Surosowan dan Kaibon) dapat digunakan untuk pelantikan gubernur dan bupati/walikota secara adat (di sumpah diwatu gilang), pemberian gelar kehormatan, upacara perkawinan terbuka untuk umum, kantung-kantung kebudayaan, kereta kuda, dsb. Penguatan identitas lokal ini saya pikir sangat menarik dan baik untuk kita semua.
Terakhir ke Banten lama pada tanggal 24 Desember 2007 bersama rombongan kelas, saya sangat kecewa sekali dengan kondisi terminal dan pasar baru yang masih semrawut, berantakan, dan terlihat sarat korupsi. Banyak sekali coretan (khas kucing hitam) dikios-kios pasar yang ditinggalkan para pedagang bernada protes, dengan kondisi bangunan pasar yang rapuh, dan asal jadi.
Kawan saya Al-Faris, begitu sangat kecewanya dengan kondisi pasar tersebut, dan mengecam cara kerja pemborong nakal itu. Petak-petak kotak sabun yang rapuh, dan mungkin hanya tahan 3 tahun.Saya sangat berharap pemerintah daerah serius memperhatikan hal ini.
Banten Selatan yang Seksi
Selain Banten lama ekspedisi yang paling seksi (misterius) adalah di wilayah Banten Selatan. Disana banyak sekali yang belum terungkap. Lebak Sibedug, Baduy, dan Salakanaga. Bukan hanya itu saja, area Gunung Karang, Ujung Kulon (termasuk P. Panaitan dan Peucang), juga merupakan wilayah yang masih diliputi kabut misteri. Siapa tahu banyak yang terungkap dari peninggalan purba dan sejarah lebih banyak lagi.
Saya berharap banyak para antropolog dan arkeolog menjadi Indiana Jones di daerah kami. Semoga
Ditulis dalam Budaya Lokal, Buku Harian, Pojok Kampus | 4 Komentar »





































RSS - Posts






